Menjadi kreatif di tempat kerja | S2 Ekonomi Syariah Azzahra
Related Posts
Oleh:
*Taufan Maulamin, SE, Ak, MM
Kreatif merupakan kata yang selalu ditujukan bagi orang-orang yang berhasil menciptakan sesuatu yang berbeda dan menarik perhatian secara umum. Orang-orang kreatif ini bekerja menggunakan akal dan pikiran, selain tergantung mood pada pekerjaan tersebut. Kreativitas merupakan cara berpikir yang selalu berkembang dan inovatif sesuai dengan jamannya. Manusia diberikan kelebihan oleh Sang Pencipta berupa akal dan pikiran. Dengan akal tersebut kita bisa melakukan perenungan dan pemikiran sebagai proses untuk dapat melakukan sesuatu yang akan membuahkan hasil. Hasil itu akan baik dan bermanfaat jika dikemas dengan sesuatu yang punya nilai kreatif.
Untuk menumbuhkan kreatifitas itu sendiri ada tahapan–tahapan tertentu yang harus dilakukan. Satu contoh; seorang Garin Nugroho, salah seorang sutradara terkenal yang telah mendapatkan penghargaan baik dalam maupun luar negeri. Karya Garin sangat inovatif dan kreatif. Atau seorang Helmy Yahya, dengan segudang kreratifitasnya yang dibuat, berhasil menampilkan karya-karya yang disuguhkan banyak menarik simpatik dari masyarakat dalam beberapa acara Reality Show, sehingga Helmy Yahya dijuluki Raja Reality Show Indonesia saat ini.
A. Model Kreativitas
Model atau gaya kreativitas merupakan cara seseorang dalam mengakomodasikasikan proses berpikir kreatifnya . Proses ini dapat dibagi menjadi 2 macam ;
1. Adaptive Problem Solving
Gaya ini cenderung dimiliki oleh orang yang menggunakan kreativitasnya untuk menyempurnakan system dimana mereka bekerja. Hal-hal yang terlihat pada cara mereka yang akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat system menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih murah dan efisien. Apa yang mereka lakukan akan dapat dilihat hasilnya secara cepat. Oleh karena itu mereka lebih sering mendapat penghargaan.
2. Innovative Problem Solving
Sedangkan gaya ini dimiliki orang dimana cara kerjanya cenderung menantang dan mengubah sistem yang sudah ada. Mereka ini sering disebut sebagai “agent of change” karena lebih memfokuskan pada penemuan sistem baru daripada menyempurnakan yang sudah ada. Dalam perusahaan mereka biasanya ada pada bagian-bagian yang melakukan riset, penciptaan produk baru, mengantisipasi kebutuhan pelanggan tanpa diminta, dan orang-orang yang menjaga kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan dating.
B. Tahap -Tahap Kreativitas
Tahapan dalam menempuh kreativitas bisa dilalui dengan :
1. Eksplorasi, Pada tahap ini pekerja mengidentifikasikan dulu hal-hal apa saja yang ingin dilakukan dalam kondisi yang ada. Sekali mereka mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut maka proses kreativitas sudah dimulai. Hal penting yang harus diperhatikan pada saat ini adalah menciptakan iklim yang menunjang proses berpikir kreatif.
2. Inventing, Pada tahap ini, sangat penting bagi perusahaan untuk melihat atau mereview berbagai alat, teknik dan metode yang telah dimiliki yang mungkin dapat membantu dalam menghilangkan cara berpikir yang tradisional.
3. Memilih, Pada tahap ini perusahaan mengidentifikasi dan memilih ide-ide yang paling mungkin dan mudah untuk dilaksanakan.
4. Implementasi, Tahap akhir untuk dapat disebut kreatif adalah bagaimana membuat suatu ide dapat diimplementasikan. Seseorang bisa saja memiliki ide cemerlang, tetapi jika ide tersebut tidak dapat diimplementasikan, maka hal itu menjadi sia-sia saja. Sama seperti syair lagu “layu sebelum berkembang”.
C. Hambatan – hambatan dalam Berpikir Kreatif
Dalam berpikir seringkali kita menemui hambatan yang rancu dan tidak terarah. Bahkan kebuntuan dalam berpikir seringkali dialami oleh tipikal orang yang kreatif dan inovatif. Hambatan-hambatan yang sering dialami oleh para pekerja untuk berpikir kreatif tadi seperti :
1. Pekerjaan yang dijalani tidak sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki.
2. Gaya kreativitas yang dimiliki tidak “match” dengan tuntutan pekerjaan sehari-hari. Contoh: gaya kreativitas Anda adalah sebagai “agent of change” tetapi pekerjaan Anda lebih bersifat rutin, mekanistik dan menuntut anda untuk melakukannya sesuai dengan aturan atau prosedur yang sudah baku.
3. Hambatan psikologis. Untuk menjadi kreatif seseorang harus berani untuk dinilai aneh dan berbeda oleh orang lain. Para penemu dan seniman-seniman besar yang saat menciptakan karyanya seringkali dianggap “gila” ataupun “aneh “. Akan tetapi tidak semua pegawai siap untuk berbeda pendapat/ide dengan orang lain meskipun ide tersebut kemudian terbukti benar.
4. Pola pendidikan kita yang kurang mendorong adanya variasi atau perbedaan pendapat yang sangat mendukung kurangnya kreativitas pegawai.
D. Menumbuhkan Kreatifitas
Pada dasarnya kreatifitas dapat terjadi di semua bentuk perusahaan sejauh perusahaan tersebut mau menghargai atau mendorong individu-individu untuk berkreasi. Apabila tidak, maka individu yang kreatif akan menjadi frustrasi hanya karena terjebak dengan rutinitas . Kreatifitas yang baik harus sejalan dengan nilai spiritual yang ada dalam dirinya karena akan terus “membentengi” dirinya dalam beraktifitas. Salah satu yang kami angkat disini sebagai upaya untuk menumbuhkan nilai kreatifitas adalah dengan SIMPLE Competency, yaitu suatu metoda sederhana dalam menumbuhkan nilai-nilai kreatifitas dalam diri setiap manusia termasuk seorang pekerja, dan ini ternyata dampaknya besar sekali karena SIMPLE ini melihat dari beberapa aspek seperti Spiritual, Intelektual, Moral, Profesional, Learning dan Emotional.
Berdasar hasil penelitian, untuk menciptakan kreatifitas dibutuhkan beberapa hal yaitu: Lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan, penuh rasa humor, spontan, memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan, iklim yang permissif terhadap existensi individualitas, memegang teguh rasa hormat, kepercayaan terhadap perusahaan, juga komitmen pada norma yang berlaku.
Beberapa cara untuk mendorong kreativitas dan inovasi dalam sebuah perusahaan bisa dengan:
1. Pengukuran terhadap hal yang sudah dilakukan. Perusahaan dianjurkan untuk memasukkan unsur kreativitas dan inovasi ke dalam proses evaluasi kerja. Contoh: Memasukkan unsur penilaian tentang berapa banyak ide dari seseorang atau kelompok yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan.
2. Penempatan pegawai dengan konsep the right people with the right job juga merupakan salah satu cara yang tepat untuk menstimulasi munculnya kreativitas dan inovasi. Hal ini dikarenakan penempatan pegawai pada posisi yang tepat yang bisa mengurangi supervisi sehingga memberikan otonomi bagi individu dalam menyelesaikan masalah – masalah pekerjaannya sendiri.
3. Salah satu cara baru dengan dilakukannya brainstorming secara regular. Dengan melakukan brainstorming pegawai diharapkan dapat memberikan ide dan solusi yang baru.
Catatan : Jika anda merasa posting ini bagus dan bermanfaat, sebarkan kepada teman2 anda di facebook Klik Disini




