<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>M.ESy Azzahra &#187; Lain-lain</title>
	<atom:link href="http://mei-azzahra.com/category/lain-lain/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mei-azzahra.com</link>
	<description>Pascasarjana Magister Ekonomi Islam Azzahra</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 02:18:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Perbankan Syariah Butuh 10 Ribu Pegawai Baru di 2011</title>
		<link>http://mei-azzahra.com/2010/12/09/perbankan-syariah-butuh-10-ribu-pegawai-baru-di-2011/</link>
		<comments>http://mei-azzahra.com/2010/12/09/perbankan-syariah-butuh-10-ribu-pegawai-baru-di-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 04:39:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banking]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Ekonomi Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[Lowongan Pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mei-azzahra.com/?p=665</guid>
		<description><![CDATA[Kebutuhan tenaga kerja perbankan syariah di 2011 masih sangat tinggi. Dengan target pertumbuhan moderat, perbankan syariah masih butuh tambahan lebih dari 10 ribu pegawai baru. ‘’Dengan skenario moderat, pada 2011 dibutuhkan (total) pegawai perbankan syariah adalah 27.328 orang,’’ sebut Direktur Utama BNI Syariah, Rizqullah, dalam Infobank Outlook 2011, pekan ini. Sementara per September 2010, total [...]<p><a href="http://mei-azzahra.com/2010/12/09/perbankan-syariah-butuh-10-ribu-pegawai-baru-di-2011/">Perbankan Syariah Butuh 10 Ribu Pegawai Baru di 2011</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 153px"><a href="http://mei-azzahra.com" target="_blank"><img class="  " title="Perbankan syariah Indonesia" src="http://zonaekis.com/gambar/perbankan_syariah_2.JPG" alt="IB logo" width="143" height="108" /></a><p class="wp-caption-text">IB logo</p></div>
<p>Kebutuhan tenaga kerja <strong><a title="perbankan syariah" href="http://mei-azzahra.com/2010/09/01/dialog-interaktif-pengembangan-perbankan-syariah/" target="_blank">perbankan syariah</a></strong> di 2011 masih sangat tinggi. Dengan target pertumbuhan moderat, perbankan syariah masih butuh tambahan lebih dari 10 ribu pegawai baru.</p>
<p>‘’Dengan skenario moderat, pada 2011 dibutuhkan (total) pegawai perbankan syariah adalah 27.328 orang,’’ sebut Direktur Utama BNI Syariah, Rizqullah, dalam Infobank Outlook 2011, pekan ini.</p>
<p>Sementara per September 2010, total pegawai perbankan syariah berjumlah 16.896 orang. Artinya kekurangan tenaga kerja syariah untuk 2011 saja mencapai lebih dari 10 ribu orang. Asumsi yang dipakai untuk menghitung kebutuhan pegawai itu, papar Rizqullah, merujuk pada rasio aset dibanding jumah pegawai. Dengan total aset per September 2010 mencapai Rp 83,454 triliun, maka rasio aset dan pegawai adalah Rp 4,94 miliar.</p>
<p>Sementara, target pertumbuhan moderat yang dipatok perbankan syariah dan BI adalah 43 persen. Dengan basis  penghitungan aset di akhir 2009 adalah Rp 66,09 triliun, maka target ‘moderat’ itu merujuk pada capaian Rp 95 triliun pada 2010 dan Rp 135 triliun pada 2011. Ketika target aset 2011 dibagi dengan Rp 4,94 miliar, maka didapatlah kekurangan 10.432 orang pegawai.</p>
<p>Sumber: REPUBLIKA.CO.ID</p>
<p><a href="http://mei-azzahra.com/2010/12/09/perbankan-syariah-butuh-10-ribu-pegawai-baru-di-2011/">Perbankan Syariah Butuh 10 Ribu Pegawai Baru di 2011</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mei-azzahra.com/2010/12/09/perbankan-syariah-butuh-10-ribu-pegawai-baru-di-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawhidy String Relation : uniqueness S2 Ekonomi Islam Azzahra</title>
		<link>http://mei-azzahra.com/2010/03/30/tawhidy-string-relation-uniqueness-s2-ekonomi-islam-azzahra/</link>
		<comments>http://mei-azzahra.com/2010/03/30/tawhidy-string-relation-uniqueness-s2-ekonomi-islam-azzahra/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 09:45:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Basrul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tawhidy String Relation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mei-azzahra.com/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kesempatan pertemuan dengan Bapak Taufan Maulamin Direktur Program Magister Ekonomi Islam Azzahra pada Sabtu 20 Maret 2010 lalu, kami menyempatkan untuk berbincang-bincang sedikit tentang Tawhidy String Relation yang diajarkan pada mahasiswa S2 Ekonomi Islam dalam matrikulasinya. Beliau menyatakan bahwa Tawhidy String Relation atau yang biasa disebut TSR ini termasuk teori yang masih terbilang baru. [...]<p><a href="http://mei-azzahra.com/2010/03/30/tawhidy-string-relation-uniqueness-s2-ekonomi-islam-azzahra/">Tawhidy String Relation : uniqueness S2 Ekonomi Islam Azzahra</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kesempatan pertemuan dengan Bapak Taufan Maulamin Direktur Program Magister Ekonomi Islam Azzahra pada Sabtu 20 Maret 2010 lalu, kami menyempatkan untuk berbincang-bincang sedikit tentang <strong>Tawhidy String Relation</strong> yang diajarkan pada mahasiswa S2 <a title="Ekonomi islam" href="http://mei-azzahra.com" target="_blank"><strong>Ekonomi Islam</strong></a> dalam matrikulasinya.</p>
<p>Beliau menyatakan bahwa <strong>Tawhidy String Relation</strong> atau yang biasa disebut TSR ini termasuk teori yang masih terbilang baru. &#8220;Teori tentang keilmuan sekarang ini banyak sekali yang hanya didasarkan empiris belaka.  Seperti misalnya, orang melakukan kegiatan ekonomi, alasannya adalah karena perut atau mencari nafkah. Tidak lagi berdasarkan untuk mencari keridhoan Allah SWT. Hal-hal seperti inilah yang diajarkan dalam <strong>Tawhidy String Relation</strong> (TSR)&#8221;, tegas beliau.</p>
<p>Beliau juga menyatakan bahwa S2 <strong>Ekonomi Islam</strong> Azzahra berencana akan mengundang Prof. Mashudul Alam Choudhury seorang berkewarganegaraan Canada yang memperkenalkan teori TSR ini agar para mahasiswa dapat bertanya dan belajar langsung kepada ahlinya dengan harapan bahwa secara epistemologi keilmuan yang mereka dapatkan karena didasarkan karena semata-mata mengharapkan keridhoan Allah SWT.</p>
<p>&#8220;Tawhidy String Relation ini bukan hanya baru, tapi juga hanya <strong>S2 Ekonomi Islam Azzahra</strong> yang mulai mengajarkan teori ini kepada mahasiswa. Kami juga akan menemui Mantan Rektor Azzahra KH. Dr. Tarmizi Taher untuk menjembatani S2 Azzahra dalam permohonan kehadiran Prof. Mashudul Alam Choudhury dalam seminar TSR&#8221;, Tambah Pak Taufan.</p>
<p>S2 Ekonomi Islam Azzahra yakin bahwa Teori <strong>Tawhidy String Relation</strong> ini akan menjadi keunggulan kurikulum dan keilmuan di Program studi Ekonomi Islam-nya. Apalagi didukung oleh tenaga pengajar yang juga menimba ilmu langsung kepada Prof. Mashudul seperti Ir. R. Bambang Budhijana, M.Sc.</p>
<p><a href="http://mei-azzahra.com/2010/03/30/tawhidy-string-relation-uniqueness-s2-ekonomi-islam-azzahra/">Tawhidy String Relation : uniqueness S2 Ekonomi Islam Azzahra</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mei-azzahra.com/2010/03/30/tawhidy-string-relation-uniqueness-s2-ekonomi-islam-azzahra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi kreatif di tempat kerja &#124; S2 Ekonomi Syariah Azzahra</title>
		<link>http://mei-azzahra.com/2009/11/07/menjadi-kreatif-di-tempat-kerja/</link>
		<comments>http://mei-azzahra.com/2009/11/07/menjadi-kreatif-di-tempat-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 18:29:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Basrul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mei-azzahra.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: *Taufan Maulamin, SE, Ak, MM Kreatif merupakan kata yang selalu ditujukan bagi orang-orang yang berhasil menciptakan sesuatu yang berbeda dan menarik perhatian secara umum. Orang-orang kreatif ini bekerja menggunakan akal dan pikiran, selain tergantung mood pada pekerjaan tersebut. Kreativitas merupakan cara berpikir yang selalu berkembang dan inovatif sesuai dengan jamannya. Manusia diberikan kelebihan oleh [...]<p><a href="http://mei-azzahra.com/2009/11/07/menjadi-kreatif-di-tempat-kerja/">Menjadi kreatif di tempat kerja | S2 Ekonomi Syariah Azzahra</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh:</p>
<p>*Taufan Maulamin, SE, Ak, MM</p>
<p><strong>Kreatif </strong>merupakan kata yang selalu ditujukan bagi orang-orang yang berhasil menciptakan sesuatu yang berbeda dan menarik perhatian secara umum. Orang-orang kreatif ini bekerja menggunakan akal dan pikiran, selain tergantung mood pada pekerjaan tersebut. Kreativitas merupakan cara berpikir yang selalu berkembang dan inovatif sesuai dengan jamannya. Manusia diberikan kelebihan oleh Sang Pencipta berupa akal dan pikiran. Dengan akal tersebut kita bisa melakukan perenungan dan pemikiran sebagai proses untuk dapat melakukan sesuatu yang akan membuahkan hasil. Hasil itu akan baik dan bermanfaat jika dikemas dengan sesuatu yang punya nilai kreatif.</p>
<p>Untuk menumbuhkan kreatifitas itu sendiri ada tahapan–tahapan tertentu yang harus dilakukan. Satu contoh; seorang Garin Nugroho, salah seorang sutradara terkenal yang telah mendapatkan penghargaan baik dalam maupun luar negeri. Karya Garin sangat inovatif dan kreatif. Atau seorang Helmy Yahya, dengan segudang kreratifitasnya yang dibuat, berhasil menampilkan karya-karya yang disuguhkan banyak menarik simpatik dari masyarakat dalam beberapa acara Reality Show, sehingga Helmy Yahya dijuluki Raja Reality Show Indonesia saat ini.</p>
<p><strong>A. Model Kreativitas</strong></p>
<p>Model atau gaya kreativitas merupakan cara seseorang dalam mengakomodasikasikan proses berpikir kreatifnya . Proses ini dapat dibagi menjadi 2 macam ;</p>
<p><strong>1. Adaptive Problem Solving</strong></p>
<p>Gaya ini cenderung dimiliki oleh orang yang menggunakan kreativitasnya untuk menyempurnakan system dimana mereka bekerja. Hal-hal yang terlihat pada cara mereka yang akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat system menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih murah dan efisien. Apa yang mereka lakukan akan dapat dilihat hasilnya secara cepat. Oleh karena itu mereka lebih sering mendapat penghargaan.</p>
<p><strong>2. Innovative Problem Solving</strong></p>
<p>Sedangkan gaya ini dimiliki orang dimana cara kerjanya cenderung menantang dan mengubah sistem yang sudah ada. Mereka ini sering disebut sebagai “agent of change” karena lebih memfokuskan pada penemuan sistem baru daripada menyempurnakan yang sudah ada. Dalam perusahaan mereka biasanya ada pada bagian-bagian yang melakukan riset, penciptaan produk baru, mengantisipasi kebutuhan pelanggan tanpa diminta, dan orang-orang yang menjaga kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan dating.</p>
<p><strong>B. Tahap -Tahap Kreativitas</strong></p>
<p>Tahapan dalam menempuh kreativitas bisa dilalui dengan :</p>
<p>1. Eksplorasi, Pada tahap ini pekerja mengidentifikasikan dulu hal-hal apa saja yang ingin dilakukan dalam kondisi yang ada. Sekali mereka mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut maka proses kreativitas sudah dimulai. Hal penting yang harus diperhatikan pada saat ini adalah menciptakan iklim yang menunjang proses berpikir kreatif.</p>
<p>2. Inventing, Pada tahap ini, sangat penting bagi perusahaan untuk melihat atau mereview berbagai alat, teknik dan metode yang telah dimiliki yang mungkin dapat membantu dalam menghilangkan cara berpikir yang tradisional.</p>
<p>3. Memilih, Pada tahap ini perusahaan mengidentifikasi dan memilih ide-ide yang paling mungkin dan mudah untuk dilaksanakan.</p>
<p>4. Implementasi, Tahap akhir untuk dapat disebut kreatif adalah bagaimana membuat suatu ide dapat diimplementasikan. Seseorang bisa saja memiliki ide cemerlang, tetapi jika ide tersebut tidak dapat diimplementasikan, maka hal itu menjadi sia-sia saja. Sama seperti syair lagu “layu sebelum berkembang”.</p>
<p><strong>C. Hambatan – hambatan dalam Berpikir Kreatif</strong></p>
<p>Dalam berpikir seringkali kita menemui hambatan yang rancu dan tidak terarah. Bahkan kebuntuan dalam berpikir seringkali dialami oleh tipikal orang yang kreatif dan inovatif. Hambatan-hambatan yang sering dialami oleh para pekerja untuk berpikir kreatif tadi seperti :</p>
<p>1. Pekerjaan yang dijalani tidak sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki.</p>
<p>2. Gaya kreativitas yang dimiliki tidak “match” dengan tuntutan pekerjaan sehari-hari. Contoh: gaya kreativitas Anda adalah sebagai “agent of change” tetapi pekerjaan Anda lebih bersifat rutin, mekanistik dan menuntut anda untuk melakukannya sesuai dengan aturan atau prosedur yang sudah baku.</p>
<p>3. Hambatan psikologis. Untuk menjadi kreatif seseorang harus berani untuk dinilai aneh dan berbeda oleh orang lain. Para penemu dan seniman-seniman besar yang saat menciptakan karyanya seringkali dianggap “gila” ataupun “aneh “. Akan tetapi tidak semua pegawai siap untuk berbeda pendapat/ide dengan orang lain meskipun ide tersebut kemudian terbukti benar.</p>
<p>4. Pola pendidikan kita yang kurang mendorong adanya variasi atau perbedaan pendapat yang sangat mendukung kurangnya kreativitas pegawai.</p>
<p><strong>D. Menumbuhkan Kreatifitas</strong></p>
<p>Pada dasarnya kreatifitas dapat terjadi di semua bentuk perusahaan sejauh perusahaan tersebut mau menghargai atau mendorong individu-individu untuk berkreasi. Apabila tidak, maka individu yang kreatif akan menjadi frustrasi hanya karena terjebak dengan rutinitas . Kreatifitas yang baik harus sejalan dengan nilai spiritual yang ada dalam dirinya karena akan terus “membentengi” dirinya dalam beraktifitas. Salah satu yang kami angkat disini sebagai upaya untuk menumbuhkan nilai kreatifitas adalah dengan SIMPLE Competency, yaitu suatu metoda sederhana dalam menumbuhkan nilai-nilai kreatifitas dalam diri setiap manusia termasuk seorang pekerja, dan ini ternyata dampaknya besar sekali karena SIMPLE ini melihat dari beberapa aspek seperti Spiritual, Intelektual, Moral, Profesional, Learning dan Emotional.</p>
<p>Berdasar hasil penelitian, untuk menciptakan kreatifitas dibutuhkan beberapa hal yaitu: Lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan, penuh rasa humor, spontan, memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan, iklim yang permissif terhadap existensi individualitas, memegang teguh rasa hormat, kepercayaan terhadap perusahaan, juga komitmen pada norma yang berlaku.</p>
<p>Beberapa cara untuk mendorong kreativitas dan inovasi dalam sebuah perusahaan bisa dengan:</p>
<p>1. Pengukuran terhadap hal yang sudah dilakukan. Perusahaan dianjurkan untuk memasukkan unsur kreativitas dan inovasi ke dalam proses evaluasi kerja. Contoh: Memasukkan unsur penilaian tentang berapa banyak ide dari seseorang atau kelompok yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan.</p>
<p>2. Penempatan pegawai dengan konsep the right people with the right job juga merupakan salah satu cara yang tepat untuk menstimulasi munculnya kreativitas dan inovasi. Hal ini dikarenakan penempatan pegawai pada posisi yang tepat yang bisa mengurangi supervisi sehingga memberikan otonomi bagi individu dalam menyelesaikan masalah – masalah pekerjaannya sendiri.</p>
<p>3. Salah satu cara baru dengan dilakukannya brainstorming secara regular. Dengan melakukan brainstorming pegawai diharapkan dapat memberikan ide dan solusi yang baru.</p>
<p><a href="http://mei-azzahra.com/2009/11/07/menjadi-kreatif-di-tempat-kerja/">Menjadi kreatif di tempat kerja | S2 Ekonomi Syariah Azzahra</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mei-azzahra.com/2009/11/07/menjadi-kreatif-di-tempat-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Kepribadian Muslim</title>
		<link>http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/</link>
		<comments>http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 17:42:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Basrul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mei-azzahra.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Artikel Menuju Kepribadian muslim Oleh : Taufan Maulamin A. CITRA NEGATIF MENGENAI MUSLIM Sudah demikian burukkah citra mengenai muslim di kalangan orang-orang, kelompok-kelompok masyarakat, dan bangsa-bangsa tertentu? Dan mungkin saja sampai sekarang citra serupa terdapat pula pada pribadi-pribadi dan kelompok-kelompok masyarakat di lingkungan yang lebih luas lagi di mana Muslim dan Islam dikaitkan dengan terorisme [...]<p><a href="http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/">Menuju Kepribadian Muslim</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3>Artikel Menuju <a title="Kepribadian Muslim" href="http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/" target="_blank">Kepribadian muslim</a> Oleh : Taufan Maulamin</h3>
</blockquote>
<h3>A. CITRA NEGATIF MENGENAI MUSLIM</h3>
<p>Sudah demikian burukkah citra mengenai muslim di kalangan orang-orang, kelompok-kelompok masyarakat, dan bangsa-bangsa tertentu? Dan mungkin saja sampai sekarang citra serupa terdapat pula pada pribadi-pribadi dan kelompok-kelompok masyarakat di lingkungan yang lebih luas lagi di mana Muslim dan Islam dikaitkan dengan terorisme dan peristiwa-peristiwa berdarah, fanatisme dan ekslusivisme dengan segala kebringasan dan kebrutalannya, penghuni peta keterbelakangan dan kemiskinan. Atau sebaliknya dihubungkan dengan kemewahan petro-dolar yang seakan-akan tak mengacuhkan kemelaratan dan kebodohan yang melanda sebagian umat Islam di dunia dewasa ini, dan citra-citra lainnya yang memalukan.<br />
Andaikata benar-benar ada citra serupa itu kita tak perlu menjadi “bringas” dan mencari kambing hitam serta menyalahkan situasi, sistem, dan ideologi pihak-pihak lain. Suatu hal yang sama sekali tak ada manfaatnya untuk mengubah citra menjai lebih baik! Kiranya akan jauh lebih bermanfaat bila kita mencoba menelusuri sebab-sebab terbentuknya citra negatif mengenai kaum Muslimin, kemudian memikirkan cara-cara mengubah citra itu.<br />
Citra buruk, menurut para pakar Psikologi biasanya bersumber dari persepsi yang salah, prasangka buruk yang diwariskan terus-menerus, perbedaan dan pertentangan nilai-nilai dan kepentingan, dan kebencian mendalam kepada Islam dan kaum Muslimin, atau pengalaman berhubungan dengan beberapa “muslim” yang memang buruk pekertinya kemudian disamaratakan untuk seluruh kaum Muslimin di dunia ini.<br />
Suatu kemungkinan lain adalah kita sendiri, kaum Muslimin, tidak mampu menampilkan secara nyata <em>identitas Muslim</em> seperti dikehendaki al-Qur’an. Kemungkinan ini tampaknya penting dan relevan, karena masalah <em>citra</em> (image) senantiasa berkaitan langsung dengan <em>cita</em> (identitas) dan <em>fakta</em> (aktualitas), dalam artian gambaran mengenai kaum Muslimin berkaitan dengan gambaran ideal dan kenyataan sebenarnya mengenai kaum Muslimin sendiri. Oleh karena itu penting sekali untu memahami gambaran al-Qur’an mengenai kaum Muslimin.</p>
<p><strong>B. </strong><strong>MUSIM MENURUT CITRA AL-QUR’AN</strong><br />
Muslim menurut citra al-Qur’anul Karim antara lain sebagai berikut:</p>
<h3>1. Keimanan kaum Muslimin</h3>
<p>Orang Muslim adalah orang-orang yang cinta sekali kepada Allah (S.2 :165) dan beriman kepada semua Nabi (S.2 : 136), mereka senantiasa bersama Allah dan tak pernah bercerai-cerai dari padaNya (S.2 : 194). Iman mereka mantap, tujuan hidupnya menegakkan Tauhid, dengan senantiasa mengabdi dan beribadah kepada Allah (S.3 : 31); (S.51 : 56; S.98 :5).</p>
<h3>2. Umat yang diunggulkan dan mendapat pimpinan Tuhan</h3>
<p>Mereka adalah umat terbaik (S.3 : 109) dan yang diunggulkan (S.2 : 143; S.3 ; 25-26), yang dijadikan pemenang (S.29 : 58-59) dan dijanjikan kemenangan (S.2 : 115), dilindungi Allah (S.2 : 257) serta dikuatkan dengan Roh Kudus (S.5 : 56; S.32 ; 24), karena mereka sendiri mendapat petunjuk (S.6 : 90) dan mendapat pimpinan yang benar (S.36 : 21) dari Tuhan.</p>
<h3>3. Sifat dan sikap kaum Muslim</h3>
<p>Mereka adalah orang-orang yang setia pada janji (S.2 : 177; S.5 : 1), bantu membantu dalam kebajikan dan bukan kejahatan (S.5 : 2), bersikap adil walaupun harus merugikan diri sendiri atau golongannya (S.4 : 135), saling menghormati dengan sesama Muslim (S.49 : 11-12), bersikap jujur sekalipun lawan (S.5 : 2), bersatu (S.3 : 102), mendapat rizki yang baik (S.2 ; 172) dan hidup secara wajar (S.2 : 62; S.3 : 112), serta hebat sekali keberaniannya: pantang mundur menghadapi lawan (S.8 : 15-16), dan mendapat kemenangan sekalipun menghadapi lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak (S.8 : 65-66). Terhadap orang kafir sikapnya keras dan tegas, sebaliknya dengan sesama Muslim kasih-mengasihi (S.48 : 29).</p>
<h3>4. Sabar dan teguh menghadapi cobaan</h3>
<p>Di lain pihak mereka tidak bebas dari cobaan dan aniaya: mereka akan mengalami cobaan-cobaan Tuhan berupa malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan dengan bermacam-macam cobaan sebagai penguji iman mereka (S.2 :214), berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan pangan (S.2 :155). Orang-orang Muslim mungkin pula mengalami pengusiran dan penganiayaan atau bahkan gugur di jalan Allah (S.3 :194, tetapi mereka tetap teguh hati dan tawakal kepada-Nya (S.29 : 10; S.2 : 156) karena mereka mendapat penghiburan dari Tuhan sebagai ganjaran atas kesabaran mereka (S.2: 155).</p>
<p>Gambaran di atas merupakan sebagian dari citra mengenai kaum Muslimin menurut al-Qur’an yang menunjukkan betapa luhur dan mantapnya pribadi Muslim yang diunggulkan dan dimuliakan di antara sesama manusia (S.2 :25)!</p>
<h3>C. RENTANG POLARISASI</h3>
<p>Muslim berdasarkan al-Qur’an menggambarkannya sebagai “orang-orang yang kuat, unggul dan terpuji”. Sekalipun kedua citra tentang Muslim itu bertentangan satu sama lain, tetapi keduanya tak dapat dipisahkan karena sama-sama menyangkut kondisi kaum Muslimin. Bahkan ditinjau dari sudut pengembangan pribadi keduanya merupakan suatu <em>rentang polarisasi,</em> dalam artian di antara kutub “Muslim serba lemah” dengan kutub “Muslim serba unggul” terdapat peringkat-peringkat Muslim lainnya dalam posisi masing-masing. Di samping itu pengembangan pribadi Muslim berlangsung dari posisi Muslim yang lebih lemah berkembang ke arah posisi musllim yang lebih unggul. Dan untuk itu langkah awal pengembangan pribadi Muslim adalah menyadari diri dan posisi citra diri sendiri dalam rentang polarisasi di antara kedua kutub tersebut.</p>
<h3>D. CITRA DIRI</h3>
<p>Citra diri (<em>self image</em>) atau konsep diri (<em>self concept</em>) adalah gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri. Walaupun citra diri mempunyai subjektivitas yang tinggi, tetapi hal itu merupakan salah satu unsur penting dalam proses pengembangan pribadi. Citra diri yang positif akan mewarnai pola sikap, cara berpikir, corak penghayatan, dan ragam perbuatan yang positif pula, demikian pula sebaliknya. Seseorang yang memandang dirinya cerdas misalnya, akan bersikap, berpikir, merasakan dan melakukan tindakan-tindakan yang dianggapnya cerdas (Sekalipun orang-orang lain mungkin mengangapnya berlagak pinter!).</p>
<p><em>Harry Stack Sullivan</em> (psikiater) dan <em>Carl Rogers</em> (psikolog) adalah dua pakar yang mempunyai pandangan berlainan mengenai ragam dan proses terbentuknya citra diri. Sullivan menyatakan adanya dua ragam citra diri, yaitu citra diri yang positif dan citra diri yang negatif. Citra diri yang positif terbentuk karena seseorang secara terus-menerus sejak lama menerima umpan balik yang positif berupa pujian dan penghargaan, sedangkan citra diri yang negatif dikaitkan dengan umpan balik negatif, seperti ejekan dan perendahan. Kedua umpan balik itu selalu diterima dari orang-orang sekitarnya, terutama dari mereka yang besar pengaruhnya bagi diri si penerima umpan balik (“<em>the significant others</em>”) yang pada akhirnya akan menumbuhkan penghayatan dan citra diri sebagai “<em>Orang Baik</em>” atau “<em>Orang Buruk</em>” yang disebut Sullivan sebagai <em>The Good-me</em> dan <em>The Bad-me.</em></p>
<p>Carl Rogers berpandangan lain. Ia tak menyangkal besarnya pengaruh pangalaman dan penilaian lingkungan atas terbentuknya citra diri, tetapi prosesnya sama sekali tidak pasif. Menurut Rogers setiap manusia secara sadar atau tidak sadar akan terus-menerus menyaring dan memilih hal-hal mana yang dianggapnya penting dan bermakna untuk diinternalisasikan dan hal-hal mana yang diabaikan karena dianggap tak bermakna baginya. Di samping itu manusia dengan imajinasinya dapat membentuk gambaran mengenai dirinya seperti dicita-citakan di masa mendatang. Oleh karena itu Carl Rogers mengemukakan adanya dua ragam citra diri, yakni <em>Citra diri</em> <em>aktual </em>(<em>The actualized self image</em>) dan <em>Citra diri ideal</em> (<em>The idealized self image</em>).</p>
<p>1. Yang dimaksud dengan citra diri yang aktual adalah gambaran seseorang mengenai dirinya pada saat sekarang, sedangkan citra diri yang ideal adalah gambaran seseorang mengenai dirinya seperti yang diidam-idamkannya. Sekalipun pandangan Sullivan dengan Rogers berbeda satu sama lain, tetapi sebenarnya kedua pasangan itu dapat dipertemukan.</p>
<p><strong>E. </strong><strong>CITRA DIRI MUSLIM</strong><br />
Sesuai dengan pengertian citra diri seperti dijelaskan di atas, maka yang dimaksud dengan Citra Diri Muslim adalah gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri, dalam artian sejauh mana ia menilai sendiri kualitaas kemusliman, keimanan, dan kemuhsinannya berdasarkan tolak ukur ajaran agama Islam. Penilaian ini benar-benar tidak mudah dan mengandung kadar subyektivitas yang tingg, tetapi hal ini dalam agama sangat dianjurkan setiap Muslim wajib menghisab dirinya sendiri sebelum ia dihisab di Hari Akhir.<br />
Skema paduan Sullivan – Rogers di atas dapat pula digunakan untuk mengelompokkan citra diri Muslim dengan cara mengisi kuadran-kuadrannya dengan berbagai kualitas kepribadian menurut al-Qur’an.</p>
<h3>F. PEMAHAMAN DAN PENGEMBANGAN PRIBADI</h3>
<p>Berbicara mengenai Citra Diri Muslim, salah satu masalah penting adalah aspek “<em>the technical know-how</em>”-nya, yakni bagaimana metode proses, dan tindakan-tindakan terencana untuk mengembangkan kualitas pribadi mendekati citra diri Muslim yang ideal. Untuk itu dapat dimanfaatkan prinsip-prinsip pelatihan “Pemahaman dan Pengembangan Pribadi”. Pelatihan ini pada dasarnya berupa rangkaian kegiatan untuk lebih menyadari berbagai keunggulan dan kelemahan pribadi, baik yang potensial maupun yang sudah teraktualisasi, misalnya kemampuan, ketrampilan, sikap, sifat, dambaan, lingkungan sekitar, untuk kemudian menumbuh-kembangkan hal-hal yang positif serta mengurangi dan menghambat hal-hal negatif.<br />
Latihan Pemahaman dan Pengembangan Pribadi dapat dilakukan secara sendirian dengan memfungsikan perenungan diri tanpa melibatkan orang lain (<em>Solo training</em>), dan dapat dilakukan juga dalam kelompok dengan memanfaatkan umpan balik dan dukungan orang-orang lain sesama anggota kelompok (<em>Group training</em>).</p>
<p>Ada bermacam-macam metode pemahaman dan pengembangan pribadi, antara lain adalah:</p>
<p><strong>a. </strong><strong><em>Pembiasaan</em></strong>: melakukan suatu perbuatan atau ketrampilan tertentu terus-menerus secara konsisten untuk waktu yang cukup lama, sehingga perbuatan dan ketrampilan itu benar-benar dikuasai dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Dalam psikologi proses pembiasaan disebut <em>conditioning</em>. Proses ini akan menjelmakan <em>kebiasaan (habit) </em>dan <em>kebisaan (ability),</em> akhirnya akan menjadi <em>sifat-sifat pribadi (personal traits) </em>yang terperangai dalam perilaku sehari-hari.</p>
<p><strong>b. </strong><strong><em>Peneladanan</em></strong>: mencontoh pemikiran, sikap, sifat-sifat, dan perilaku dari orang-orang yang dikagumi untuk kemudian mengambil-alihnya sebagai sikap, sifat, dan perilaku pribadi. Ada dua ragam bentuk penteladanan yaitu <em>peniruan</em> (<em>imitation</em>) dan <em>identifikasi-diri</em> (<em>self identification</em>). Peniruan adalah usaha untuk menampilkan diri dan berlaku seperti penampilan dan perilaku orang yang dikagumi (<em>idola</em>), sedangkan identifikasi-diri adalah mengambil alih nilai-nilai (<em>values</em>) dari tokoh-tokoh yang dikagumi untuk kemudian dijadikan nilai-nilai pribadi (<em>personal values</em>) yang berfungsi sebagai pedoman dan arah pengembangan diri.</p>
<p><strong>c. </strong><strong><em>Pemahaman</em></strong><em>,<strong> penghayatan, dan penerapan</strong></em><strong>: </strong>Secara sadar berusaha untuk mempelajari dan memahami benar hal-hal (nilai-nilai, asas-asas, dan perilaku) yang dianggap baik dan bermakna, kemudian berusaha untuk mendalami dan menjiwainya, lalu mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><strong>d. </strong><strong><em>Ibadah</em></strong><strong>: </strong>ibadah khusus seperti: shalat, puasa, dzikir, dan ibadah dalam artian umum, yakni berbuat kebajikan dengan niat semata-mata karena Allah, secarasadar atau pun tidak disadari akan mengembangkan kualitas-kualitas terpuji pada mereka yang melaksanakannya. Sebagai contoh adalah ibadah shalat dan dzikir:</p>
<p><em>Sesungguhnya shalat itu mencegah (manusia) dari perbuatan keji dan buruk; sesungguhnya ingat kepada Allah itu merupakan (kekuatan) yang paling akbar”. </em>(QS. Al-Ankabut (29):</p>
<p>Keempat metode tersebut masing-masing dapat dilaksanakan sendiri-sendiri, tetapi dapat juga dipadukan dalam suatu paket pelatihan, misalnya paket pelatihan “Menuju Kepribadian Muslim”.</p>
<p><strong>G. </strong><strong>MENUJU KEPRIBADIAN MUSLIM <em>(Suatu Alternatif Pelatihan) </em> </strong></p>
<p>Dalam psikologi dikenal bermacam-macam pelatihan dan metode pengembangan pribadi (personal growth). Pengembangan pribadi adalah usaha terencana untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang mencerminkan kedewasaan pribadi guna meraih kondisi yang lebih baik lagi dalam mewujudkan citra diri yang diidam-idamkan. Usaha ini dilandasi oleh kesadaran bahwa manusia sebagai “ <em>the self determining being</em>” memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang paling baik untuk dirinya dalam rangka mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi. Prinsip ini tampaknya sesuai dengan prinsip mengubah nasib yang terungkap dalam QS. Ar Ra’d ayat 11:</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri</em><em>.</em></p>
<p>Salah satu kegiatan pengembangan pribadi adalah pelatihan “Menemukan Makna Hidup” yang kiranya dapat dimodifikasi untuk merancang program pelatihan “Menuju Kepribadian Muslim”. Pelatihan “Menemukan Makna Hidup” ini didasari oleh prinsip “Panca Sadar”, yaitu:</p>
<p>a. Sadar akan citra diri yang diidam-idamkan.</p>
<p>b. Sadar akan keunggulan dan kelemahan diri sendiri.</p>
<p>c. Sadar akan unsur-unsur yang menunjang dan menghambat dari lingkungan sekitar.</p>
<p>d. Sadar akan pendekatan dan metode pengembangan pribadi.</p>
<p>e. Sadar akan tokoh idaman dan panutan sebagai suri teladan.</p>
<p>Selain prinsip-prinsip tersebut di atas dalam proses pelatihan ini perlu dipahami benar pendekatan,metode dan teknik-teknik pengembangan pribadi yang disebut “Panca Cara Pengembangan Pribadi”, yaitu:</p>
<p><strong>a. </strong><strong><em>Pemahaman Diri</em></strong>: mengenali secara obyektif kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan diri sendiri, baik yang masih merupakan potensi maupun yang sudah teraktualisasi, untuk kemudian kekuatan-kekuatan itu dikembangkan dan ditingkatkan serta kelemahan-kelemahan dihambat dan dikurangi.</p>
<p><strong>b. </strong><strong><em>Bertindak Positif</em></strong>: mencoba menerapkan dan melaksanakan dalam perilaku dan tindakan-tindakan nyata sehari-hari hal-hal yang dianggap baik dan bermanfaat.</p>
<p><strong>c. </strong><strong><em>Pengakraban Hubungan</em></strong>: meningkatkan hubungan baik dengan pribadi-pribadi tertentu (misalnya anggota keluarga, teman, ekan sekerja), sehingga masing-masing saling mempercayai, saling memerlukan satu sama lainnya, serta saling membantu.</p>
<p><strong>d. </strong><strong><em>Pendalaman Tri Nilai</em></strong>: Berusaha untuk memahami dan memenuhi tiga macam nilai yang dianggap merupakan sumber makna hidup yaitu:</p>
<p>i. <em>Nilai kreatif</em> (kerja, karya),</p>
<p>ii. <em>Nilai penghayatan</em> (kebenaran, keindahan, kasih, iman),</p>
<p>iii. <em>Nilai bersikap</em> (menerima dan mengambil sikap yang tepat terhadap derita yang tak dapat dihindari lagi).</p>
<p><strong>e. </strong><strong><em>Ibadah</em></strong>: berusaha untu kmelaksanakan apay nnag diperintahkan Tuhan dan mencegah diri dari apa yang dilarangNya. Ibadah yang khusyuk sering mendatangkan perasaan tnteram, mantap, dan tabah, serta tak jarang pula menimbulkan perasaan seakan-akan mendapat bimbingan dan petunjukNya dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.</p>
<p>Kelima metode tersebut tujuannya untuk menjajagi sumber makna hidup dari kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitarnya. Makna hidup ini bila ditemukan dan berhasil dipenuhi diharapkan akan mendatangkan perasaan bermakna dan bahagia yang semuanya merupakan cerminan kepribadian yang mantap dan sehat. Pendekatan ini dapat difungsikan dalam pelatihan <em>“Menuju Kepribadian Muslim”</em>.</p>
<p>Setelah memahami citra al-Qur’an mengenai kaum Muslimin dan memahami pula prinsip-prinsip dan metode pengembangan pribadi, maka selanjutnya terpulang kepada kita masing-masing untuk meningkatkan dan mengembangkan diri secara sadar dengan jalan mewujudkan potensi-potensi ragawi, kejiwaan, sosial, dan potensi-potensi rohani secara optimal untuk mendekati citra diri muslim yang diidam-idamkan. Mengukur kemusliman diri sendiri rasa-rasanya posisi kita ada di antara rentang polarisasi “Muslim lemah” dengan “Muslim unggul”. Insya Allah dengan usaha pengembangan pribadi, antara lain melalui pelatihan “Menuju Kepribadian Muslim”, kita akan menuju kutub “Muslim ideal” yang digambarkan al-Qur’an.</p>
<p>Bagi umat Islam usaha pengembangan pribadi ini benar-benar sudah dipermudah dengan adanya anugerah Tuhan berupa sarana-sarana yang sangat vital untuk pengembangan pribadi Muslim. Sarana-sarana itu adalah: tuntutan al-Qur’an yang maha benar dengan al-Hadits sebagai petunjuk pelaksanaannya, ibadah-ibadah yang dapat mempertinggi derajat kerohanian, dan potensi-potensi serta kemampuan luar biasa manusia yang menandakan mereka tergolong makhluk bermartabat yang mampu mengubah nasib sendiri. Bahkan dipermudah dengan adanya tokoh idaman dan panutan umat, yaitu: Nabi Muhammad SAW sendiri<sup> </sup>yang dimansyhurkan memiliki Akhlak al-Qur’an, keluhuran budi pekertinya mendapat pujian langsung dari Tuhan, dan memperbaiki akhlak manusia merupakan salah satu missi kerasulannya.</p>
<p>Oleh : Taufan Maulamin</p>
<p><a href="http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/">Menuju Kepribadian Muslim</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar</title>
		<link>http://mei-azzahra.com/2009/10/22/belajar/</link>
		<comments>http://mei-azzahra.com/2009/10/22/belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 16:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Basrul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mei-azzahra.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari Fulan berjalan menuju rumah temannya di kampung sebrang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia terjerembab dalam sebuah lubang perangkap. Untunglah Fulan masih selamat. Dengan luka di badannya, ia kembali pulang. Keesokan harinya, Fulan kembali melakukan perjalanan menuju rumah temannya. Akankah Fulan terjatuh lagi dalam lubang perangkap? Apakah Fulan akan terjerembab lagi? Jawabannya adalah tergantung [...]<p><a href="http://mei-azzahra.com/2009/10/22/belajar/">Belajar</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="margin: 8px;" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:s1ndp8hCHTG6jM:http://graphics8.nytimes.com/images/2008/04/20/magazine/20learn-600.jpg" alt="Belajar" width="135" height="70" /> Suatu hari Fulan berjalan menuju rumah temannya di kampung sebrang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia terjerembab dalam sebuah lubang perangkap. Untunglah Fulan masih selamat. Dengan luka di badannya, ia kembali pulang. Keesokan harinya, Fulan kembali melakukan perjalanan menuju rumah temannya. Akankah Fulan terjatuh lagi dalam lubang perangkap? Apakah Fulan akan terjerembab lagi? Jawabannya adalah tergantung Fulan.</p>
<p>Bila Fulan mengevaluasi hasil kejadian kemarin dimana ia terjatuh dalam lubang perangkap dan mengambil rencana bagaimana agar ia tidak terjatuh dalam lubang itu lagi, kemudian ternyata rencananya berhasil, maka ia telah melakukan suatu tindakan belajar. Bila ia masih terjatuh dalam lubang itu, maka tingkatannya hanya baru sekedar tahu, bahwa di situ ada lubang yang siap menjebak anda. Inilah bedanya belajar dan tahu.</p>
<p>Belajar artinya ada perubahan. Tahu berarti penumpukkan informasi di otak anda. Belajar adalah lompatan dinamis sedangkan tahu saja cenderung statis. Musuh orang yang belajar adalah para status <em>quo</em>. Orang-orang yang berusaha mempertahankan kedudukannya akan tergeser oleh para pembaharu, yaitu para pembelajar.</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Motivasi Belajar</strong></p>
<p>Mengapa kita belajar dan mengapa kita harus berubah? Di alam semesta ini, hampir semua benda mengalami perubahan. Apapun itu, baik matahari yang diprediksikan 5000 tahun lagi akan padam. Ada debu kecil di alam semesta ini yang diberi nama bumi, juga mengalami banyak perubahan. Lapisan ozon yang semakin menipis. Pergerakan kerak bumi yang mengguncangkan penduduk di atasnya. Belum lagi kerja mesin-mesin pengungkit energi, yaitu tumbuh-tumbuhan yang bekerja keras dengan proses fotosintesisnya. Semua mengalami perubahan.</p>
<p>Di dunia ini hanya ada dua tipe perubahan, yaitu: (1) perubahan menuju kehancuran dan (2) perubahan kebalikannya, yaitu berlawanan arah dengan kehancuran. Alam semesta ini pada hakekatnya berlaku hukum kehancuran. Setiap benda ada usianya dan sedang dalam proses menuju kehancuran. Tapi ada fenomena ajaib yang hanya ada di bumi, yaitu penambahan proses kebalikan dari proses kehancuran. Fenomena ini terjadi di bawah lapisan ozon. Kita mengenal istilah ekologi, siklus karbon, siklus oksigen, dll.</p>
<p>Ada ilustrasi, bila gelas kita jatuhkan, maka gelas itu akan pecah berantakan. Ini seperti proses yang terjadi di alam semesta. Tapi dengan adanya kita, gelas yang telah pecah itu dapat kita daur ulang lagi menjadi gelas yang utuh. Itulah yang terjadi di bawah lapisan ozon bumi ini. Belajar adalah perbaikkan menuju sesuatu yang lebih baik. Seperti ilustrasi yang di atas menghancurkan itu mudah, tapi membangun, memperbaiki, dan membuat yang baru itu lain persoalannya. Contohnya bila kita menghancurkan gedung bertingkat bisa dengan sekejap, tapi membangun gedung bertingkat yang serupa memerlukan waktu berbulan-bulan dengan biaya yang tidak sedikit.</p>
<p>Hukum yang berlaku menyatakan makhluk yang bermanfaat adalah makhluk yang mulia. Untuk bermanfaat kita harus belajar. Bermanfaat artinya memberi potensi positif bagi pembangunan maupun perbaikan yang telah ada bagi pemenuhan kebutuhan makhluk hidup. Menanyakan apa manfaatnya bagi aku? Biasanya memberi stimulus bagi seorang manusia untuk <em>“doing somethink for somethink”</em>, karena nilai manfaat tidak sekedar menjadi kebutuhan orang lain, tapi juga kebutuhan diri sendiri berupa aktualisasi eksistensi seorang manusia. Tidak bermanfaat berarti ketiadaan. Ketiadaan ketika hidup adalah kematian sebelum kematian datang menjemput.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Waktu Belajar</strong></p>
<p>Waktu untuk belajar bukanlah waktu yang luang atau kosong dalam jadwal. Justru belajar harus kita plotkan dalam jadwal. Menciptakan waktu belajar tidak berhenti dari itu saja, tapi mempersiapkan tubuh kita untuk juga siap dalam keadaan belajar. Bangun pagi setengah jam lebih dari biasanya dapat mempersiapkan tubuh segar dan siap. Korbankan aktivitas lain. Matikan televisi saat anda sedang menonton. Pakai transportasi umum. Bawalah selalu notebook, PDA atau buku tulis untuk belajar di sela-sela menunggu, contohnya saat ngantri.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Area belajar</strong></p>
<p>Mengetahui area belajar kita, dapat memudahkan pencapaian sehingga kita tidak mudah frustasi. Sepotong kecil kue lebih mudah kita telan, dibandingkan bila kita menelan semangkuk kue sekaligus. Maka penting bagi kita yang telah memilih area belajar untuk memotong-motong area itu menjadi potongan-potongan lebih kecil, sehingga mudah ditelan satu persatu.</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Rencana Belajar</strong></p>
<p>Potongan-potongan area belajar memudahkan bagi anda untuk memplotkan dalam jadwal. Masukkan area kecil-kecil itu dan berilah jangka waktu yang realistis bagi anda. Evaluasi pelaksanaannya. Komitmen dengan jadwal anda dan berilah waktu untuk merayakan setiap keberhasilan belajar anda.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>5. </strong><strong>Menjaga Kebugaran</strong></p>
<p>Mengapa saya menggunakan kata “bugar”? Kebugaran berbeda dengan sehat. Sehat belum tentu bugar. Tapi bila bugar pasti sehat. Kebugaran diukur seberapa anda mampu mengkonsumsi oksigen untuk menjaga kestabilan tubuh anda. Dalam belajar diperlukan tidak sekedar tubuh yang sehat tetapi juga tubuh yang bugar. Bagaimana anda sanggup duduk berjam-jam mempelajari suatu bahan penting bila anda tidak memiliki tubuh yang mampu menopang selama itu. Pemain catur profesional memerlukan olah raga aerobik seperti jalan kaki minimal selama 1 jam per hari untuk mempertahankan kualitas tubuhnya hanya agar dapat duduk bertanding selama berjam-jam.</p>
<p>Selain olah raga aerobik, kualitas makan perlu anda perhatikan. Falsafah empat sehat lima sempurna harus benar-benar diterapkan. Alkohol, obat-obatan, pemanis, kafein, nikotin termasuk kelebihan gula dapat memicu kedunguan. Tapi perlu diingat, kebiasaan ‘ngemil’ saat belajar dapat dipertahankan. Energi belajar dapat dikeluarkan dengan relaksasi. Sebelum belajar, munculkan suasana damai dan positif bagi diri anda.</p>
<p><strong>6. </strong><strong>Mulai dengan Apa yang Diketahui</strong></p>
<p>Sebelum mempelajari bagian yang telah direncanakan, keluarkan dahulu informasi apa saja yang anda ketahui mengenai subyek itu. Mengeluarkan informasi yang anda ketahui dapat menggunakan metode peta pikiran. Peta pikiran merupakan coretan-coretan gambar yang merupakan manifestasi pikiran anda mengenai suatu subyek. Tema utama diletakkan di tengah lalu anda menambahkan informasi di sekeliling tema utama itu.</p>
<p>Buat pertanyaan seputar subyek yang anda dalami. Siapa yang menemukan obat AIDS? Rumus apa yang dipakai? Kapan ia menemukan kapal itu? Kapan ulat jeruk membentuk kepompong? Di mana ular kobra membuat sarangnya? Mengapa air laut asin? Mengapa sabun dapat membersihkan baju kotor? Bagaimana kerja motor dua tak? Bagaimana hal ini dapat berhubungan dengan pengetahuan saya?</p>
<p><strong>7. </strong><strong>Modalitas Belajar </strong></p>
<p>Belajar yang terbaik menggunakan semua modalitas belajar, yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Setiap orang memiliki dominasi yang berbeda untuk setiap modalitasnya. Ada yang dominan visual, ada pula yang dominan kinestetik.</p>
<p><strong>8. </strong><strong>Membaca dengan Bijaksana</strong></p>
<p>Tidak semua hal harus dibaca. Membacalah subyek yang ingin anda perdalam. Membaca yang baik harus didahului keingintahuan atas pertanyaan yang belum terjawab. Alangkah baiknya anda menyiapkan pertanyaan sebelum membaca buku. Ketika mulai membaca setidaknya ada tiga hambatan yang dicirikan dengan gejala khasnya, yaitu:</p>
<p>a. Bila anda mulai mengantuk, merasa malas, gugup, mulai mengeluh dan tidak mampu memanfaatkan bacaan itu, maka ini mengindikasikan ada makna dari yang anda baca belum dipahami dengan baik. Kata-kata yang anda baca menimbulkan kesalahan persepsi dari yang dimaksud penulis. Tentu saja ini menimbulkan “bad sector” di kepala anda yang akhirnya meminta “turning off” dari yang anda baca. Solusi dari masalah ini adalah temukan bagian yang kurang dimengerti itu. Biasanya satu halaman sebelum anda mengantuk. Carilah kata atau kalimat yang kurang dimengerti itu. Sering yang terjadi adalah “kata” bukan “kalimat” yang menjadi masalah. Kemudian carilah kata itu dalam kamus sekaligus perdalam makna kata itu, sehingga anda benar-benar paham akan kata tersebut.</p>
<p>b. Bila anda “mogok” baca, bosan, atau rasanya tidak memperoleh kemajuan, mengalami pusing kepala, dan sakit mata? Maka ada kemungkinan anda belum memiliki unsur-unsur dasar yang dibahas dalam buku itu. Biasanya hal ini dapat diatasi dengan melakukan domonstrasi dari yang anda pelajari. Demonstrasi ini dapat berupa menggambar, membuat tiruan asli sekaligus menerangkannya pada orang lain.</p>
<p>c. Bila anda bingung dan merasa berat? Biasanya gejala ini akibat pemahaman anda yang masih di bahwa level pembaca buku itu. Ini seperti anda yang sedang naik tangga dengan tiga anak tangga sekaligus. Tentu saja memberatkan. Jangan anda langsung membaca anatomi tubuh bila anda belum mempelajari biologi dasar. Oleh karena itu tuntaskan dahulu bacaan dasar anda, baru kemudian naik ke tingkat selanjutnya. Sekali lagi, bila anda mengalami gejala di atas maka turunkan level bacaan anda.</p>
<p><strong>9. </strong><strong>Mengingat Lebih Baik</strong></p>
<p>Mengingat tidak sekedar menjadi hapalan yang akan hilang ditelan waktu. Tetapi lebih dari itu, kita memerlukan daya ingat yang lebih lama. Kalau bisa, kita dapat ingat seumur hidup. Betapa asyiknya pelajaran dari SD sampai kuliah kita dapat kita ingat sampai sekarang. Hal-hal yang telah dipelajari, tidak perlu kita pelajari lagi hanya gara-gara kita telah LUPA. Sejak sekarang, pemborosan umur akibat LUPA lebih baik kita kurangi. Bagaimana cara mengingat lebih lama? Setidaknya ada tiga hal yang mendasar yang perlu kita lakukan mengenai masalah ingatan ini:</p>
<p>a. Berikan perhatian pada yang ingin anda ingat. Bila di ruang rapat anda melamun, hampir dapat dipastikan anda tidak akan ingat apa yang sedang disampaikan bos. Apalagi bila anda sedang mengerjakan hal penting, sedangkan teman sedang berbicara dengan anda. Suaranya akan tertelan angin, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Memberikan perhatian adalah syarat utama yang pertama yang harus anda lakukan bila anda ingin ingat lebih lama.</p>
<p>Kita perlu ingat bahwa di sini memberikan perhatian lebih condong berkonsentrasi dengan tingkat emosi yang stabil atau relaks. Selain itu bila anda telah melakukan hal di atas maka yakinkan diri bahwa anda bisa mengingatnya. Sugesti ini penting, sepenting keperluan anda untuk mengingat informasi itu. Sugesti bahwa anda tidak bisa mengingat hal kecil apalagi yang besar, adalah sugesti yang harus dihilangkan. Sugesti yang harus ditanamkan adalah anda mampu mengingat hal itu karena mengingat adalah salah satu anugrah dari Yang Maha Mengetahui yang diberikan pada makhluknya. Setiap kita tentu harus bersyukur dengan anugerah itu. Ingat lho, kita punya otak yang lebih hebat dari komputer.</p>
<p>b. Ciptakan asosiasi yang memberikan persamaan, penghubung dan pengait dari item-item yang perlu diingat. Asosiasi adalah dasar dari teknik mengingat yang dilakukan oleh internal atau diri sendiri. Salah satu teknik ini, anda mungkin sudah pernah melakukannya seperti pembuatan akronim, akrostik dan penggunaan kata-kata populer. ABRI = Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, SIM = Surat Izin Mengemudi, dan HIPPI = Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia adalah contoh dari penggunaan akronim untuk memudahkan mengingat.</p>
<p>c. Gambarkan dengan jelas dalam pikiran anda. Menggambar dalam pikiran, saya pikir adalah pekerjaan yang sejak kecil sering kita lakukan. Bermain-main jadi pilot pesawat terbang, pura-pura menjadi sopir mobil, dan lain sebagainya. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah apakah anda melanjutkan kebiasaan itu ketika anda beranjak dewasa. Salah satu kekuatan ingatan adalah imajinasi yang jelas. Menggambar dalam pikiran dengan detail, termasuk aroma, suasananya, cahaya pantul, dan lain-lain sampai-sampai anda seakan-akan berada di alam lain. Coba anda mengingatnya dengan menggambar setiap item di atas di dalam pikiran anda! Setelah itu hubungkan dengan membuat alur kejadian seperti anda memasuki ke dalam rumah yang penuh barang-barang itu. Bayangkan barang-barang itu saling menyapa anda dan anda berusaha memanggilnya satu per satu.</p>
<p>d. Perulangan yang teratur menambah daya ingat anda. Perulangan tidak sekedar mengulang-ulang mengingat dalam satu waktu. Tapi lebih pada kapan anda menjadwalkan perulangan itu dan mengembangkan dari yang dihapalkan itu. Perulangan yang efektif dilakukan 10 menit setelah pelajaran lalu seminggu kemudian. 1 bulan kemudian, selanjutnya enam bulan setelahnya. Idealnya lama studi itu sekitar 30 -50 menit dilanjutkan dengan istirahat total sekitar 5 – 10 menit. Setelah istirahat, anda dapat melanjutkan studi dan seterusnya. Dengan teknik menghapal yang telah saya jabarkan di atas diharapkan anda dapat mempertahankan daya ingat anda selama mungkin.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>10. </strong><strong>Macam Belajar</strong></p>
<p>Apa yang kita pilih untuk belajarnya akan menjadikan diri kita siapa sebenarnya anda. Belajar tentang menjejali dalam pikiran anda berbagai informasi yang diperlukan. Belajar tentang menempatkan fakta, data dan informasi berada di luar diri. Hal itu seperti simpanan uang di bank yang sewaktu-waktu dapat dikeluarkan untuk suatu keperluan. Contoh: belajar tentang manajemen, belajar tentang akuntansi, dan sejenisnya. Belajar dengan menempatkan diri anda sebagai subjek yang memerlukan media belajar lain yang lebih kompleks. Pembelajaran tipe ini mendorong kita untuk terlibat lebih aktif. Contoh: belajar dengan teman, belajar dengan komputer, dan sejenisnya. Belajar barasal dari dorongan diri atas keinginan menjadi sesuatu. Fakta, data dan informasi akan memiliki makna yang dalam bagi pembelajar ini. Lahir dari suatu visi dan bagaimana mewujudkan visi itu. Contoh: belajar menjadi menjadi komputer, belajar menjadi Bob Sadino, dan sejenisnya.</p>
<p><strong>11. </strong><strong>Pembelajar yang Cepat</strong></p>
<p>Dunia persaingan yang keras dan perkembangan teknologi yang cepat, mengharuskan setiap orang di dunia ini untuk mau tidak mau harus menjadi seorang pembelajar yang cepat. Pembelajar yang cepat memilki ciri-ciri sebagai berikut:</p>
<p>a. Terbuka atas saran, kritik dan nasihat yang membangun.</p>
<p>b. Proaktif.</p>
<p>c. Mengikuti perkembangan dunia usaha dan mampu memprediksi tren masa depan.</p>
<p>d. Berusaha menciptakan informasi.</p>
<p>e. Mengetahui dengan jelas ruang-ruang kosong pengetahuannya.</p>
<p>f. Tanggapan positif terhadap hal-hal baru.</p>
<p>g. Memahami prinsip-prinsip efektif.</p>
<p>h. Tidak selalu bersandar pada pengalaman.</p>
<p>Oleh Taufan maulamin</p>
<p><a href="http://mei-azzahra.com/2009/10/22/belajar/">Belajar</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mei-azzahra.com/2009/10/22/belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

