<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ekonomi Syariah Azzahra &#187; Lain-lain</title>
	<atom:link href="http://mei-azzahra.com/category/lain-lain/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mei-azzahra.com</link>
	<description>Pascasarjana Magister Ekonomi Islam Azzahra &#124; D3 dan S1 Ekonomi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 09:15:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Hendri Tanjung : Azzahra berkomitmen kuat terhadap kejujuran</title>
		<link>http://mei-azzahra.com/2012/02/15/hendri-tanjung-azzahra-berkomitmen-kuat-terhadap-kejujuran/</link>
		<comments>http://mei-azzahra.com/2012/02/15/hendri-tanjung-azzahra-berkomitmen-kuat-terhadap-kejujuran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 03:27:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Basrul (online)</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kejujuran]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[rosul]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>
		<category><![CDATA[universitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mei-azzahra.com/?p=1089</guid>
		<description><![CDATA[Kejujuran adalah sebuah hal yang senantiasa ditekankan untuk terus diterapkan di setiap segi kehidupan. Apalagi jika berbicara mengenai syariat islam yang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran, pastilah ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari aplikasi syariat tersebut dalam kehidupan nyata. Dalam sebuah kesempatan acara Open House dan Bedah Buku &#8220;kaidah-kaidah Fiqh Keuangan &#38; Transaksi Bisnis&#8221; yang [...]<p><a href="http://mei-azzahra.com/2012/02/15/hendri-tanjung-azzahra-berkomitmen-kuat-terhadap-kejujuran/">Hendri Tanjung : Azzahra berkomitmen kuat terhadap kejujuran</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://mei-azzahra.com/wp-content/uploads/2012/02/pak-hayu-n-hendri1.jpg"><img class="wp-image-1096 alignleft" style="margin: 4px;" title="Hendri tanjung kejujuran" src="http://mei-azzahra.com/wp-content/uploads/2012/02/pak-hayu-n-hendri1.jpg" alt="" width="200" height="157" /></a><a title="Menuju Kepribadian Muslim dan kejujuran" href="http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/">Kejujuran</a></strong> adalah sebuah hal yang senantiasa ditekankan untuk terus diterapkan di setiap segi kehidupan. Apalagi jika berbicara mengenai syariat islam yang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran, pastilah ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari aplikasi syariat tersebut dalam kehidupan nyata.</p>
<p>Dalam sebuah kesempatan acara Open House dan <a title="Bedah Buku ” Kaidah-Kaidah Fiqih Keuangan &amp; Transaksi Bisnis” (gratis)" href="http://mei-azzahra.com/2011/03/11/bedah-buku-kaidah-kaidah-fiqih-keuangan-transaksi-bisnis-gratis/" target="_blank">Bedah Buku &#8220;kaidah-kaidah Fiqh Keuangan &amp; Transaksi Bisnis&#8221;</a> yang ditulis oleh Bapak Prof. Dr. Muhammad Tohir Mansori, hadir sebagai pembicara sekaligus penerjemah Bapak Hendri Tanjung S.Si, MM, MBA, M.Phil, Ph.D.  &#8221;Saya Melihat, <a title="Universitas Azzahra on Coffee break TV One" href="http://mei-azzahra.com/2011/05/20/universitas-azzahra-on-coffee-break-tv-one/">Universitas Azzahra</a> ini didirikan oleh orang yang menurut saya memiliki komitmen jujur yang luar biasa. Dan mestinya hal tiu harus diwariskan pada para mahasiswanya&#8221;, Kata hendri.</p>
<p>Kejujuran sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang. Bukan hanya Ilmu pengetahuan saja yang harus digali tapi nilai-nilai kejujuran juga harus menjadi tolak ukur keberhasilan karakter building seperti yang pernah dicontohkan oleh Rosul kita Muhammad SAW. &#8220;Jadi memang, sebuah institusi tidak hanya mengajarkan ilmu saja, tapi juga semangat dan karakter. itu yang paling utama. Maka itu sekarang di Indonesia ini sedang menggalakkan yang namanya pendidikan karakter&#8221;, Jelas Hendri.</p>
<p>Hendri menambahkan bahwa sebuah perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang besar dalam mewariskan nilai kejujuran kepada para mahasiswanya. Dengan begitu, nilai yang yang tak terpisahkan dari syariat seperti kejujuran ini akan dibawa oleh lulusan dan diimplementasikan di dalam seluruh segi kehidupan baik karir, keluarga maupun bermasyarakat. &#8220;Tapi itu akan tercermin daripada jiwa pendirinya. dan saya sangat terkesan dengan Azzahra ini karena pendirinya adalah orang yang sangat kokoh dalam komitmen dan sebagai ikon dari sebuah <strong>kejujuran</strong>&#8220;, Tambah Hendri. (mei-azzahra)</p>
<p><a href="http://mei-azzahra.com/2012/02/15/hendri-tanjung-azzahra-berkomitmen-kuat-terhadap-kejujuran/">Hendri Tanjung : Azzahra berkomitmen kuat terhadap kejujuran</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mei-azzahra.com/2012/02/15/hendri-tanjung-azzahra-berkomitmen-kuat-terhadap-kejujuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbankan Syariah Butuh 10 Ribu Pegawai Baru di 2011</title>
		<link>http://mei-azzahra.com/2010/12/09/perbankan-syariah-butuh-10-ribu-pegawai-baru-di-2011/</link>
		<comments>http://mei-azzahra.com/2010/12/09/perbankan-syariah-butuh-10-ribu-pegawai-baru-di-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 04:39:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banking]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Ekonomi Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[Lowongan Pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mei-azzahra.com/?p=665</guid>
		<description><![CDATA[Kebutuhan tenaga kerja perbankan syariah di 2011 masih sangat tinggi. Dengan target pertumbuhan moderat, perbankan syariah masih butuh tambahan lebih dari 10 ribu pegawai baru. ‘’Dengan skenario moderat, pada 2011 dibutuhkan (total) pegawai perbankan syariah adalah 27.328 orang,’’ sebut Direktur Utama BNI Syariah, Rizqullah, dalam Infobank Outlook 2011, pekan ini. Sementara per September 2010, total [...]<p><a href="http://mei-azzahra.com/2010/12/09/perbankan-syariah-butuh-10-ribu-pegawai-baru-di-2011/">Perbankan Syariah Butuh 10 Ribu Pegawai Baru di 2011</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 153px"><a href="http://mei-azzahra.com" target="_blank"><img class="  " title="Perbankan syariah Indonesia" src="http://zonaekis.com/gambar/perbankan_syariah_2.JPG" alt="IB logo" width="143" height="108" /></a><p class="wp-caption-text">IB logo</p></div>
<p>Kebutuhan tenaga kerja <strong><a title="perbankan syariah" href="http://mei-azzahra.com/2010/09/01/dialog-interaktif-pengembangan-perbankan-syariah/" target="_blank">perbankan syariah</a></strong> di 2011 masih sangat tinggi. Dengan target pertumbuhan moderat, perbankan syariah masih butuh tambahan lebih dari 10 ribu pegawai baru.</p>
<p>‘’Dengan skenario moderat, pada 2011 dibutuhkan (total) pegawai perbankan syariah adalah 27.328 orang,’’ sebut Direktur Utama BNI Syariah, Rizqullah, dalam Infobank Outlook 2011, pekan ini.</p>
<p>Sementara per September 2010, total pegawai perbankan syariah berjumlah 16.896 orang. Artinya kekurangan tenaga kerja syariah untuk 2011 saja mencapai lebih dari 10 ribu orang. Asumsi yang dipakai untuk menghitung kebutuhan pegawai itu, papar Rizqullah, merujuk pada rasio aset dibanding jumah pegawai. Dengan total aset per September 2010 mencapai Rp 83,454 triliun, maka rasio aset dan pegawai adalah Rp 4,94 miliar.</p>
<p>Sementara, target pertumbuhan moderat yang dipatok perbankan syariah dan BI adalah 43 persen. Dengan basis  penghitungan aset di akhir 2009 adalah Rp 66,09 triliun, maka target ‘moderat’ itu merujuk pada capaian Rp 95 triliun pada 2010 dan Rp 135 triliun pada 2011. Ketika target aset 2011 dibagi dengan Rp 4,94 miliar, maka didapatlah kekurangan 10.432 orang pegawai.</p>
<p>Sumber: REPUBLIKA.CO.ID</p>
<p><a href="http://mei-azzahra.com/2010/12/09/perbankan-syariah-butuh-10-ribu-pegawai-baru-di-2011/">Perbankan Syariah Butuh 10 Ribu Pegawai Baru di 2011</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mei-azzahra.com/2010/12/09/perbankan-syariah-butuh-10-ribu-pegawai-baru-di-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawhidy String Relation : uniqueness S2 Ekonomi Islam Azzahra</title>
		<link>http://mei-azzahra.com/2010/03/30/tawhidy-string-relation-uniqueness-s2-ekonomi-islam-azzahra/</link>
		<comments>http://mei-azzahra.com/2010/03/30/tawhidy-string-relation-uniqueness-s2-ekonomi-islam-azzahra/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 09:45:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Basrul (online)</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tawhidy String Relation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mei-azzahra.com/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kesempatan pertemuan dengan Bapak Taufan Maulamin Direktur Program Magister Ekonomi Islam Azzahra pada Sabtu 20 Maret 2010 lalu, kami menyempatkan untuk berbincang-bincang sedikit tentang Tawhidy String Relation yang diajarkan pada mahasiswa S2 Ekonomi Islam dalam matrikulasinya. Beliau menyatakan bahwa Tawhidy String Relation atau yang biasa disebut TSR ini termasuk teori yang masih terbilang baru. [...]<p><a href="http://mei-azzahra.com/2010/03/30/tawhidy-string-relation-uniqueness-s2-ekonomi-islam-azzahra/">Tawhidy String Relation : uniqueness S2 Ekonomi Islam Azzahra</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kesempatan pertemuan dengan Bapak Taufan Maulamin Direktur Program Magister Ekonomi Islam Azzahra pada Sabtu 20 Maret 2010 lalu, kami menyempatkan untuk berbincang-bincang sedikit tentang <strong>Tawhidy String Relation</strong> yang diajarkan pada mahasiswa S2 <a title="Ekonomi islam" href="http://mei-azzahra.com" target="_blank"><strong>Ekonomi Islam</strong></a> dalam matrikulasinya.</p>
<p>Beliau menyatakan bahwa <strong>Tawhidy String Relation</strong> atau yang biasa disebut TSR ini termasuk teori yang masih terbilang baru. &#8220;Teori tentang keilmuan sekarang ini banyak sekali yang hanya didasarkan empiris belaka.  Seperti misalnya, orang melakukan kegiatan ekonomi, alasannya adalah karena perut atau mencari nafkah. Tidak lagi berdasarkan untuk mencari keridhoan Allah SWT. Hal-hal seperti inilah yang diajarkan dalam <strong>Tawhidy String Relation</strong> (TSR)&#8221;, tegas beliau.</p>
<p>Beliau juga menyatakan bahwa S2 <strong>Ekonomi Islam</strong> Azzahra berencana akan mengundang Prof. Mashudul Alam Choudhury seorang berkewarganegaraan Canada yang memperkenalkan teori TSR ini agar para mahasiswa dapat bertanya dan belajar langsung kepada ahlinya dengan harapan bahwa secara epistemologi keilmuan yang mereka dapatkan karena didasarkan karena semata-mata mengharapkan keridhoan Allah SWT.</p>
<p>&#8220;Tawhidy String Relation ini bukan hanya baru, tapi juga hanya <strong>S2 Ekonomi Islam Azzahra</strong> yang mulai mengajarkan teori ini kepada mahasiswa. Kami juga akan menemui Mantan Rektor Azzahra KH. Dr. Tarmizi Taher untuk menjembatani S2 Azzahra dalam permohonan kehadiran Prof. Mashudul Alam Choudhury dalam seminar TSR&#8221;, Tambah Pak Taufan.</p>
<p>S2 Ekonomi Islam Azzahra yakin bahwa Teori <strong>Tawhidy String Relation</strong> ini akan menjadi keunggulan kurikulum dan keilmuan di Program studi Ekonomi Islam-nya. Apalagi didukung oleh tenaga pengajar yang juga menimba ilmu langsung kepada Prof. Mashudul seperti Ir. R. Bambang Budhijana, M.Sc.</p>
<p><a href="http://mei-azzahra.com/2010/03/30/tawhidy-string-relation-uniqueness-s2-ekonomi-islam-azzahra/">Tawhidy String Relation : uniqueness S2 Ekonomi Islam Azzahra</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mei-azzahra.com/2010/03/30/tawhidy-string-relation-uniqueness-s2-ekonomi-islam-azzahra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi kreatif di tempat kerja &#124; S2 Ekonomi Syariah Azzahra</title>
		<link>http://mei-azzahra.com/2009/11/07/menjadi-kreatif-di-tempat-kerja/</link>
		<comments>http://mei-azzahra.com/2009/11/07/menjadi-kreatif-di-tempat-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 18:29:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Basrul (online)</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mei-azzahra.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: *Taufan Maulamin, SE, Ak, MM Kreatif merupakan kata yang selalu ditujukan bagi orang-orang yang berhasil menciptakan sesuatu yang berbeda dan menarik perhatian secara umum. Orang-orang kreatif ini bekerja menggunakan akal dan pikiran, selain tergantung mood pada pekerjaan tersebut. Kreativitas merupakan cara berpikir yang selalu berkembang dan inovatif sesuai dengan jamannya. Manusia diberikan kelebihan oleh [...]<p><a href="http://mei-azzahra.com/2009/11/07/menjadi-kreatif-di-tempat-kerja/">Menjadi kreatif di tempat kerja | S2 Ekonomi Syariah Azzahra</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh:</p>
<p>*Taufan Maulamin, SE, Ak, MM</p>
<p><strong>Kreatif </strong>merupakan kata yang selalu ditujukan bagi orang-orang yang berhasil menciptakan sesuatu yang berbeda dan menarik perhatian secara umum. Orang-orang kreatif ini bekerja menggunakan akal dan pikiran, selain tergantung mood pada pekerjaan tersebut. Kreativitas merupakan cara berpikir yang selalu berkembang dan inovatif sesuai dengan jamannya. Manusia diberikan kelebihan oleh Sang Pencipta berupa akal dan pikiran. Dengan akal tersebut kita bisa melakukan perenungan dan pemikiran sebagai proses untuk dapat melakukan sesuatu yang akan membuahkan hasil. Hasil itu akan baik dan bermanfaat jika dikemas dengan sesuatu yang punya nilai kreatif.</p>
<p>Untuk menumbuhkan kreatifitas itu sendiri ada tahapan–tahapan tertentu yang harus dilakukan. Satu contoh; seorang Garin Nugroho, salah seorang sutradara terkenal yang telah mendapatkan penghargaan baik dalam maupun luar negeri. Karya Garin sangat inovatif dan kreatif. Atau seorang Helmy Yahya, dengan segudang kreratifitasnya yang dibuat, berhasil menampilkan karya-karya yang disuguhkan banyak menarik simpatik dari masyarakat dalam beberapa acara Reality Show, sehingga Helmy Yahya dijuluki Raja Reality Show Indonesia saat ini.</p>
<p><strong>A. Model Kreativitas</strong></p>
<p>Model atau gaya kreativitas merupakan cara seseorang dalam mengakomodasikasikan proses berpikir kreatifnya . Proses ini dapat dibagi menjadi 2 macam ;</p>
<p><strong>1. Adaptive Problem Solving</strong></p>
<p>Gaya ini cenderung dimiliki oleh orang yang menggunakan kreativitasnya untuk menyempurnakan system dimana mereka bekerja. Hal-hal yang terlihat pada cara mereka yang akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat system menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih murah dan efisien. Apa yang mereka lakukan akan dapat dilihat hasilnya secara cepat. Oleh karena itu mereka lebih sering mendapat penghargaan.</p>
<p><strong>2. Innovative Problem Solving</strong></p>
<p>Sedangkan gaya ini dimiliki orang dimana cara kerjanya cenderung menantang dan mengubah sistem yang sudah ada. Mereka ini sering disebut sebagai “agent of change” karena lebih memfokuskan pada penemuan sistem baru daripada menyempurnakan yang sudah ada. Dalam perusahaan mereka biasanya ada pada bagian-bagian yang melakukan riset, penciptaan produk baru, mengantisipasi kebutuhan pelanggan tanpa diminta, dan orang-orang yang menjaga kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan dating.</p>
<p><strong>B. Tahap -Tahap Kreativitas</strong></p>
<p>Tahapan dalam menempuh kreativitas bisa dilalui dengan :</p>
<p>1. Eksplorasi, Pada tahap ini pekerja mengidentifikasikan dulu hal-hal apa saja yang ingin dilakukan dalam kondisi yang ada. Sekali mereka mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut maka proses kreativitas sudah dimulai. Hal penting yang harus diperhatikan pada saat ini adalah menciptakan iklim yang menunjang proses berpikir kreatif.</p>
<p>2. Inventing, Pada tahap ini, sangat penting bagi perusahaan untuk melihat atau mereview berbagai alat, teknik dan metode yang telah dimiliki yang mungkin dapat membantu dalam menghilangkan cara berpikir yang tradisional.</p>
<p>3. Memilih, Pada tahap ini perusahaan mengidentifikasi dan memilih ide-ide yang paling mungkin dan mudah untuk dilaksanakan.</p>
<p>4. Implementasi, Tahap akhir untuk dapat disebut kreatif adalah bagaimana membuat suatu ide dapat diimplementasikan. Seseorang bisa saja memiliki ide cemerlang, tetapi jika ide tersebut tidak dapat diimplementasikan, maka hal itu menjadi sia-sia saja. Sama seperti syair lagu “layu sebelum berkembang”.</p>
<p><strong>C. Hambatan – hambatan dalam Berpikir Kreatif</strong></p>
<p>Dalam berpikir seringkali kita menemui hambatan yang rancu dan tidak terarah. Bahkan kebuntuan dalam berpikir seringkali dialami oleh tipikal orang yang kreatif dan inovatif. Hambatan-hambatan yang sering dialami oleh para pekerja untuk berpikir kreatif tadi seperti :</p>
<p>1. Pekerjaan yang dijalani tidak sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki.</p>
<p>2. Gaya kreativitas yang dimiliki tidak “match” dengan tuntutan pekerjaan sehari-hari. Contoh: gaya kreativitas Anda adalah sebagai “agent of change” tetapi pekerjaan Anda lebih bersifat rutin, mekanistik dan menuntut anda untuk melakukannya sesuai dengan aturan atau prosedur yang sudah baku.</p>
<p>3. Hambatan psikologis. Untuk menjadi kreatif seseorang harus berani untuk dinilai aneh dan berbeda oleh orang lain. Para penemu dan seniman-seniman besar yang saat menciptakan karyanya seringkali dianggap “gila” ataupun “aneh “. Akan tetapi tidak semua pegawai siap untuk berbeda pendapat/ide dengan orang lain meskipun ide tersebut kemudian terbukti benar.</p>
<p>4. Pola pendidikan kita yang kurang mendorong adanya variasi atau perbedaan pendapat yang sangat mendukung kurangnya kreativitas pegawai.</p>
<p><strong>D. Menumbuhkan Kreatifitas</strong></p>
<p>Pada dasarnya kreatifitas dapat terjadi di semua bentuk perusahaan sejauh perusahaan tersebut mau menghargai atau mendorong individu-individu untuk berkreasi. Apabila tidak, maka individu yang kreatif akan menjadi frustrasi hanya karena terjebak dengan rutinitas . Kreatifitas yang baik harus sejalan dengan nilai spiritual yang ada dalam dirinya karena akan terus “membentengi” dirinya dalam beraktifitas. Salah satu yang kami angkat disini sebagai upaya untuk menumbuhkan nilai kreatifitas adalah dengan SIMPLE Competency, yaitu suatu metoda sederhana dalam menumbuhkan nilai-nilai kreatifitas dalam diri setiap manusia termasuk seorang pekerja, dan ini ternyata dampaknya besar sekali karena SIMPLE ini melihat dari beberapa aspek seperti Spiritual, Intelektual, Moral, Profesional, Learning dan Emotional.</p>
<p>Berdasar hasil penelitian, untuk menciptakan kreatifitas dibutuhkan beberapa hal yaitu: Lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan, penuh rasa humor, spontan, memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan, iklim yang permissif terhadap existensi individualitas, memegang teguh rasa hormat, kepercayaan terhadap perusahaan, juga komitmen pada norma yang berlaku.</p>
<p>Beberapa cara untuk mendorong kreativitas dan inovasi dalam sebuah perusahaan bisa dengan:</p>
<p>1. Pengukuran terhadap hal yang sudah dilakukan. Perusahaan dianjurkan untuk memasukkan unsur kreativitas dan inovasi ke dalam proses evaluasi kerja. Contoh: Memasukkan unsur penilaian tentang berapa banyak ide dari seseorang atau kelompok yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan.</p>
<p>2. Penempatan pegawai dengan konsep the right people with the right job juga merupakan salah satu cara yang tepat untuk menstimulasi munculnya kreativitas dan inovasi. Hal ini dikarenakan penempatan pegawai pada posisi yang tepat yang bisa mengurangi supervisi sehingga memberikan otonomi bagi individu dalam menyelesaikan masalah – masalah pekerjaannya sendiri.</p>
<p>3. Salah satu cara baru dengan dilakukannya brainstorming secara regular. Dengan melakukan brainstorming pegawai diharapkan dapat memberikan ide dan solusi yang baru.</p>
<p><a href="http://mei-azzahra.com/2009/11/07/menjadi-kreatif-di-tempat-kerja/">Menjadi kreatif di tempat kerja | S2 Ekonomi Syariah Azzahra</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mei-azzahra.com/2009/11/07/menjadi-kreatif-di-tempat-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Kepribadian Muslim</title>
		<link>http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/</link>
		<comments>http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 17:42:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Basrul (online)</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mei-azzahra.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Artikel Menuju Kepribadian muslim Oleh : Taufan Maulamin A. CITRA NEGATIF MENGENAI MUSLIM Sudah demikian burukkah citra mengenai muslim di kalangan orang-orang, kelompok-kelompok masyarakat, dan bangsa-bangsa tertentu? Dan mungkin saja sampai sekarang citra serupa terdapat pula pada pribadi-pribadi dan kelompok-kelompok masyarakat di lingkungan yang lebih luas lagi di mana Muslim dan Islam dikaitkan dengan terorisme [...]<p><a href="http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/">Menuju Kepribadian Muslim</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3>Artikel Menuju <a title="Kepribadian Muslim" href="http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/" target="_blank">Kepribadian muslim</a> Oleh : Taufan Maulamin</h3>
</blockquote>
<h3>A. CITRA NEGATIF MENGENAI MUSLIM</h3>
<p>Sudah demikian burukkah citra mengenai muslim di kalangan orang-orang, kelompok-kelompok masyarakat, dan bangsa-bangsa tertentu? Dan mungkin saja sampai sekarang citra serupa terdapat pula pada pribadi-pribadi dan kelompok-kelompok masyarakat di lingkungan yang lebih luas lagi di mana Muslim dan Islam dikaitkan dengan terorisme dan peristiwa-peristiwa berdarah, fanatisme dan ekslusivisme dengan segala kebringasan dan kebrutalannya, penghuni peta keterbelakangan dan kemiskinan. Atau sebaliknya dihubungkan dengan kemewahan petro-dolar yang seakan-akan tak mengacuhkan kemelaratan dan kebodohan yang melanda sebagian umat Islam di dunia dewasa ini, dan citra-citra lainnya yang memalukan.<br />
Andaikata benar-benar ada citra serupa itu kita tak perlu menjadi “bringas” dan mencari kambing hitam serta menyalahkan situasi, sistem, dan ideologi pihak-pihak lain. Suatu hal yang sama sekali tak ada manfaatnya untuk mengubah citra menjai lebih baik! Kiranya akan jauh lebih bermanfaat bila kita mencoba menelusuri sebab-sebab terbentuknya citra negatif mengenai kaum Muslimin, kemudian memikirkan cara-cara mengubah citra itu.<br />
Citra buruk, menurut para pakar Psikologi biasanya bersumber dari persepsi yang salah, prasangka buruk yang diwariskan terus-menerus, perbedaan dan pertentangan nilai-nilai dan kepentingan, dan kebencian mendalam kepada Islam dan kaum Muslimin, atau pengalaman berhubungan dengan beberapa “muslim” yang memang buruk pekertinya kemudian disamaratakan untuk seluruh kaum Muslimin di dunia ini.<br />
Suatu kemungkinan lain adalah kita sendiri, kaum Muslimin, tidak mampu menampilkan secara nyata <em>identitas Muslim</em> seperti dikehendaki al-Qur’an. Kemungkinan ini tampaknya penting dan relevan, karena masalah <em>citra</em> (image) senantiasa berkaitan langsung dengan <em>cita</em> (identitas) dan <em>fakta</em> (aktualitas), dalam artian gambaran mengenai kaum Muslimin berkaitan dengan gambaran ideal dan kenyataan sebenarnya mengenai kaum Muslimin sendiri. Oleh karena itu penting sekali untu memahami gambaran al-Qur’an mengenai kaum Muslimin.</p>
<p><strong>B. </strong><strong>MUSIM MENURUT CITRA AL-QUR’AN</strong><br />
Muslim menurut citra al-Qur’anul Karim antara lain sebagai berikut:</p>
<h3>1. Keimanan kaum Muslimin</h3>
<p>Orang Muslim adalah orang-orang yang cinta sekali kepada Allah (S.2 :165) dan beriman kepada semua Nabi (S.2 : 136), mereka senantiasa bersama Allah dan tak pernah bercerai-cerai dari padaNya (S.2 : 194). Iman mereka mantap, tujuan hidupnya menegakkan Tauhid, dengan senantiasa mengabdi dan beribadah kepada Allah (S.3 : 31); (S.51 : 56; S.98 :5).</p>
<h3>2. Umat yang diunggulkan dan mendapat pimpinan Tuhan</h3>
<p>Mereka adalah umat terbaik (S.3 : 109) dan yang diunggulkan (S.2 : 143; S.3 ; 25-26), yang dijadikan pemenang (S.29 : 58-59) dan dijanjikan kemenangan (S.2 : 115), dilindungi Allah (S.2 : 257) serta dikuatkan dengan Roh Kudus (S.5 : 56; S.32 ; 24), karena mereka sendiri mendapat petunjuk (S.6 : 90) dan mendapat pimpinan yang benar (S.36 : 21) dari Tuhan.</p>
<h3>3. Sifat dan sikap kaum Muslim</h3>
<p>Mereka adalah orang-orang yang setia pada janji (S.2 : 177; S.5 : 1), bantu membantu dalam kebajikan dan bukan kejahatan (S.5 : 2), bersikap adil walaupun harus merugikan diri sendiri atau golongannya (S.4 : 135), saling menghormati dengan sesama Muslim (S.49 : 11-12), bersikap jujur sekalipun lawan (S.5 : 2), bersatu (S.3 : 102), mendapat rizki yang baik (S.2 ; 172) dan hidup secara wajar (S.2 : 62; S.3 : 112), serta hebat sekali keberaniannya: pantang mundur menghadapi lawan (S.8 : 15-16), dan mendapat kemenangan sekalipun menghadapi lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak (S.8 : 65-66). Terhadap orang kafir sikapnya keras dan tegas, sebaliknya dengan sesama Muslim kasih-mengasihi (S.48 : 29).</p>
<h3>4. Sabar dan teguh menghadapi cobaan</h3>
<p>Di lain pihak mereka tidak bebas dari cobaan dan aniaya: mereka akan mengalami cobaan-cobaan Tuhan berupa malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan dengan bermacam-macam cobaan sebagai penguji iman mereka (S.2 :214), berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan pangan (S.2 :155). Orang-orang Muslim mungkin pula mengalami pengusiran dan penganiayaan atau bahkan gugur di jalan Allah (S.3 :194, tetapi mereka tetap teguh hati dan tawakal kepada-Nya (S.29 : 10; S.2 : 156) karena mereka mendapat penghiburan dari Tuhan sebagai ganjaran atas kesabaran mereka (S.2: 155).</p>
<p>Gambaran di atas merupakan sebagian dari citra mengenai kaum Muslimin menurut al-Qur’an yang menunjukkan betapa luhur dan mantapnya pribadi Muslim yang diunggulkan dan dimuliakan di antara sesama manusia (S.2 :25)!</p>
<h3>C. RENTANG POLARISASI</h3>
<p>Muslim berdasarkan al-Qur’an menggambarkannya sebagai “orang-orang yang kuat, unggul dan terpuji”. Sekalipun kedua citra tentang Muslim itu bertentangan satu sama lain, tetapi keduanya tak dapat dipisahkan karena sama-sama menyangkut kondisi kaum Muslimin. Bahkan ditinjau dari sudut pengembangan pribadi keduanya merupakan suatu <em>rentang polarisasi,</em> dalam artian di antara kutub “Muslim serba lemah” dengan kutub “Muslim serba unggul” terdapat peringkat-peringkat Muslim lainnya dalam posisi masing-masing. Di samping itu pengembangan pribadi Muslim berlangsung dari posisi Muslim yang lebih lemah berkembang ke arah posisi musllim yang lebih unggul. Dan untuk itu langkah awal pengembangan pribadi Muslim adalah menyadari diri dan posisi citra diri sendiri dalam rentang polarisasi di antara kedua kutub tersebut.</p>
<h3>D. CITRA DIRI</h3>
<p>Citra diri (<em>self image</em>) atau konsep diri (<em>self concept</em>) adalah gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri. Walaupun citra diri mempunyai subjektivitas yang tinggi, tetapi hal itu merupakan salah satu unsur penting dalam proses pengembangan pribadi. Citra diri yang positif akan mewarnai pola sikap, cara berpikir, corak penghayatan, dan ragam perbuatan yang positif pula, demikian pula sebaliknya. Seseorang yang memandang dirinya cerdas misalnya, akan bersikap, berpikir, merasakan dan melakukan tindakan-tindakan yang dianggapnya cerdas (Sekalipun orang-orang lain mungkin mengangapnya berlagak pinter!).</p>
<p><em>Harry Stack Sullivan</em> (psikiater) dan <em>Carl Rogers</em> (psikolog) adalah dua pakar yang mempunyai pandangan berlainan mengenai ragam dan proses terbentuknya citra diri. Sullivan menyatakan adanya dua ragam citra diri, yaitu citra diri yang positif dan citra diri yang negatif. Citra diri yang positif terbentuk karena seseorang secara terus-menerus sejak lama menerima umpan balik yang positif berupa pujian dan penghargaan, sedangkan citra diri yang negatif dikaitkan dengan umpan balik negatif, seperti ejekan dan perendahan. Kedua umpan balik itu selalu diterima dari orang-orang sekitarnya, terutama dari mereka yang besar pengaruhnya bagi diri si penerima umpan balik (“<em>the significant others</em>”) yang pada akhirnya akan menumbuhkan penghayatan dan citra diri sebagai “<em>Orang Baik</em>” atau “<em>Orang Buruk</em>” yang disebut Sullivan sebagai <em>The Good-me</em> dan <em>The Bad-me.</em></p>
<p>Carl Rogers berpandangan lain. Ia tak menyangkal besarnya pengaruh pangalaman dan penilaian lingkungan atas terbentuknya citra diri, tetapi prosesnya sama sekali tidak pasif. Menurut Rogers setiap manusia secara sadar atau tidak sadar akan terus-menerus menyaring dan memilih hal-hal mana yang dianggapnya penting dan bermakna untuk diinternalisasikan dan hal-hal mana yang diabaikan karena dianggap tak bermakna baginya. Di samping itu manusia dengan imajinasinya dapat membentuk gambaran mengenai dirinya seperti dicita-citakan di masa mendatang. Oleh karena itu Carl Rogers mengemukakan adanya dua ragam citra diri, yakni <em>Citra diri</em> <em>aktual </em>(<em>The actualized self image</em>) dan <em>Citra diri ideal</em> (<em>The idealized self image</em>).</p>
<p>1. Yang dimaksud dengan citra diri yang aktual adalah gambaran seseorang mengenai dirinya pada saat sekarang, sedangkan citra diri yang ideal adalah gambaran seseorang mengenai dirinya seperti yang diidam-idamkannya. Sekalipun pandangan Sullivan dengan Rogers berbeda satu sama lain, tetapi sebenarnya kedua pasangan itu dapat dipertemukan.</p>
<p><strong>E. </strong><strong>CITRA DIRI MUSLIM</strong><br />
Sesuai dengan pengertian citra diri seperti dijelaskan di atas, maka yang dimaksud dengan Citra Diri Muslim adalah gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri, dalam artian sejauh mana ia menilai sendiri kualitaas kemusliman, keimanan, dan kemuhsinannya berdasarkan tolak ukur ajaran agama Islam. Penilaian ini benar-benar tidak mudah dan mengandung kadar subyektivitas yang tingg, tetapi hal ini dalam agama sangat dianjurkan setiap Muslim wajib menghisab dirinya sendiri sebelum ia dihisab di Hari Akhir.<br />
Skema paduan Sullivan – Rogers di atas dapat pula digunakan untuk mengelompokkan citra diri Muslim dengan cara mengisi kuadran-kuadrannya dengan berbagai kualitas kepribadian menurut al-Qur’an.</p>
<h3>F. PEMAHAMAN DAN PENGEMBANGAN PRIBADI</h3>
<p>Berbicara mengenai Citra Diri Muslim, salah satu masalah penting adalah aspek “<em>the technical know-how</em>”-nya, yakni bagaimana metode proses, dan tindakan-tindakan terencana untuk mengembangkan kualitas pribadi mendekati citra diri Muslim yang ideal. Untuk itu dapat dimanfaatkan prinsip-prinsip pelatihan “Pemahaman dan Pengembangan Pribadi”. Pelatihan ini pada dasarnya berupa rangkaian kegiatan untuk lebih menyadari berbagai keunggulan dan kelemahan pribadi, baik yang potensial maupun yang sudah teraktualisasi, misalnya kemampuan, ketrampilan, sikap, sifat, dambaan, lingkungan sekitar, untuk kemudian menumbuh-kembangkan hal-hal yang positif serta mengurangi dan menghambat hal-hal negatif.<br />
Latihan Pemahaman dan Pengembangan Pribadi dapat dilakukan secara sendirian dengan memfungsikan perenungan diri tanpa melibatkan orang lain (<em>Solo training</em>), dan dapat dilakukan juga dalam kelompok dengan memanfaatkan umpan balik dan dukungan orang-orang lain sesama anggota kelompok (<em>Group training</em>).</p>
<p>Ada bermacam-macam metode pemahaman dan pengembangan pribadi, antara lain adalah:</p>
<p><strong>a. </strong><strong><em>Pembiasaan</em></strong>: melakukan suatu perbuatan atau ketrampilan tertentu terus-menerus secara konsisten untuk waktu yang cukup lama, sehingga perbuatan dan ketrampilan itu benar-benar dikuasai dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Dalam psikologi proses pembiasaan disebut <em>conditioning</em>. Proses ini akan menjelmakan <em>kebiasaan (habit) </em>dan <em>kebisaan (ability),</em> akhirnya akan menjadi <em>sifat-sifat pribadi (personal traits) </em>yang terperangai dalam perilaku sehari-hari.</p>
<p><strong>b. </strong><strong><em>Peneladanan</em></strong>: mencontoh pemikiran, sikap, sifat-sifat, dan perilaku dari orang-orang yang dikagumi untuk kemudian mengambil-alihnya sebagai sikap, sifat, dan perilaku pribadi. Ada dua ragam bentuk penteladanan yaitu <em>peniruan</em> (<em>imitation</em>) dan <em>identifikasi-diri</em> (<em>self identification</em>). Peniruan adalah usaha untuk menampilkan diri dan berlaku seperti penampilan dan perilaku orang yang dikagumi (<em>idola</em>), sedangkan identifikasi-diri adalah mengambil alih nilai-nilai (<em>values</em>) dari tokoh-tokoh yang dikagumi untuk kemudian dijadikan nilai-nilai pribadi (<em>personal values</em>) yang berfungsi sebagai pedoman dan arah pengembangan diri.</p>
<p><strong>c. </strong><strong><em>Pemahaman</em></strong><em>,<strong> penghayatan, dan penerapan</strong></em><strong>: </strong>Secara sadar berusaha untuk mempelajari dan memahami benar hal-hal (nilai-nilai, asas-asas, dan perilaku) yang dianggap baik dan bermakna, kemudian berusaha untuk mendalami dan menjiwainya, lalu mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><strong>d. </strong><strong><em>Ibadah</em></strong><strong>: </strong>ibadah khusus seperti: shalat, puasa, dzikir, dan ibadah dalam artian umum, yakni berbuat kebajikan dengan niat semata-mata karena Allah, secarasadar atau pun tidak disadari akan mengembangkan kualitas-kualitas terpuji pada mereka yang melaksanakannya. Sebagai contoh adalah ibadah shalat dan dzikir:</p>
<p><em>Sesungguhnya shalat itu mencegah (manusia) dari perbuatan keji dan buruk; sesungguhnya ingat kepada Allah itu merupakan (kekuatan) yang paling akbar”. </em>(QS. Al-Ankabut (29):</p>
<p>Keempat metode tersebut masing-masing dapat dilaksanakan sendiri-sendiri, tetapi dapat juga dipadukan dalam suatu paket pelatihan, misalnya paket pelatihan “Menuju Kepribadian Muslim”.</p>
<p><strong>G. </strong><strong>MENUJU KEPRIBADIAN MUSLIM <em>(Suatu Alternatif Pelatihan) </em> </strong></p>
<p>Dalam psikologi dikenal bermacam-macam pelatihan dan metode pengembangan pribadi (personal growth). Pengembangan pribadi adalah usaha terencana untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang mencerminkan kedewasaan pribadi guna meraih kondisi yang lebih baik lagi dalam mewujudkan citra diri yang diidam-idamkan. Usaha ini dilandasi oleh kesadaran bahwa manusia sebagai “ <em>the self determining being</em>” memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang paling baik untuk dirinya dalam rangka mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi. Prinsip ini tampaknya sesuai dengan prinsip mengubah nasib yang terungkap dalam QS. Ar Ra’d ayat 11:</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri</em><em>.</em></p>
<p>Salah satu kegiatan pengembangan pribadi adalah pelatihan “Menemukan Makna Hidup” yang kiranya dapat dimodifikasi untuk merancang program pelatihan “Menuju Kepribadian Muslim”. Pelatihan “Menemukan Makna Hidup” ini didasari oleh prinsip “Panca Sadar”, yaitu:</p>
<p>a. Sadar akan citra diri yang diidam-idamkan.</p>
<p>b. Sadar akan keunggulan dan kelemahan diri sendiri.</p>
<p>c. Sadar akan unsur-unsur yang menunjang dan menghambat dari lingkungan sekitar.</p>
<p>d. Sadar akan pendekatan dan metode pengembangan pribadi.</p>
<p>e. Sadar akan tokoh idaman dan panutan sebagai suri teladan.</p>
<p>Selain prinsip-prinsip tersebut di atas dalam proses pelatihan ini perlu dipahami benar pendekatan,metode dan teknik-teknik pengembangan pribadi yang disebut “Panca Cara Pengembangan Pribadi”, yaitu:</p>
<p><strong>a. </strong><strong><em>Pemahaman Diri</em></strong>: mengenali secara obyektif kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan diri sendiri, baik yang masih merupakan potensi maupun yang sudah teraktualisasi, untuk kemudian kekuatan-kekuatan itu dikembangkan dan ditingkatkan serta kelemahan-kelemahan dihambat dan dikurangi.</p>
<p><strong>b. </strong><strong><em>Bertindak Positif</em></strong>: mencoba menerapkan dan melaksanakan dalam perilaku dan tindakan-tindakan nyata sehari-hari hal-hal yang dianggap baik dan bermanfaat.</p>
<p><strong>c. </strong><strong><em>Pengakraban Hubungan</em></strong>: meningkatkan hubungan baik dengan pribadi-pribadi tertentu (misalnya anggota keluarga, teman, ekan sekerja), sehingga masing-masing saling mempercayai, saling memerlukan satu sama lainnya, serta saling membantu.</p>
<p><strong>d. </strong><strong><em>Pendalaman Tri Nilai</em></strong>: Berusaha untuk memahami dan memenuhi tiga macam nilai yang dianggap merupakan sumber makna hidup yaitu:</p>
<p>i. <em>Nilai kreatif</em> (kerja, karya),</p>
<p>ii. <em>Nilai penghayatan</em> (kebenaran, keindahan, kasih, iman),</p>
<p>iii. <em>Nilai bersikap</em> (menerima dan mengambil sikap yang tepat terhadap derita yang tak dapat dihindari lagi).</p>
<p><strong>e. </strong><strong><em>Ibadah</em></strong>: berusaha untu kmelaksanakan apay nnag diperintahkan Tuhan dan mencegah diri dari apa yang dilarangNya. Ibadah yang khusyuk sering mendatangkan perasaan tnteram, mantap, dan tabah, serta tak jarang pula menimbulkan perasaan seakan-akan mendapat bimbingan dan petunjukNya dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.</p>
<p>Kelima metode tersebut tujuannya untuk menjajagi sumber makna hidup dari kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitarnya. Makna hidup ini bila ditemukan dan berhasil dipenuhi diharapkan akan mendatangkan perasaan bermakna dan bahagia yang semuanya merupakan cerminan kepribadian yang mantap dan sehat. Pendekatan ini dapat difungsikan dalam pelatihan <em>“Menuju Kepribadian Muslim”</em>.</p>
<p>Setelah memahami citra al-Qur’an mengenai kaum Muslimin dan memahami pula prinsip-prinsip dan metode pengembangan pribadi, maka selanjutnya terpulang kepada kita masing-masing untuk meningkatkan dan mengembangkan diri secara sadar dengan jalan mewujudkan potensi-potensi ragawi, kejiwaan, sosial, dan potensi-potensi rohani secara optimal untuk mendekati citra diri muslim yang diidam-idamkan. Mengukur kemusliman diri sendiri rasa-rasanya posisi kita ada di antara rentang polarisasi “Muslim lemah” dengan “Muslim unggul”. Insya Allah dengan usaha pengembangan pribadi, antara lain melalui pelatihan “Menuju Kepribadian Muslim”, kita akan menuju kutub “Muslim ideal” yang digambarkan al-Qur’an.</p>
<p>Bagi umat Islam usaha pengembangan pribadi ini benar-benar sudah dipermudah dengan adanya anugerah Tuhan berupa sarana-sarana yang sangat vital untuk pengembangan pribadi Muslim. Sarana-sarana itu adalah: tuntutan al-Qur’an yang maha benar dengan al-Hadits sebagai petunjuk pelaksanaannya, ibadah-ibadah yang dapat mempertinggi derajat kerohanian, dan potensi-potensi serta kemampuan luar biasa manusia yang menandakan mereka tergolong makhluk bermartabat yang mampu mengubah nasib sendiri. Bahkan dipermudah dengan adanya tokoh idaman dan panutan umat, yaitu: Nabi Muhammad SAW sendiri<sup> </sup>yang dimansyhurkan memiliki Akhlak al-Qur’an, keluhuran budi pekertinya mendapat pujian langsung dari Tuhan, dan memperbaiki akhlak manusia merupakan salah satu missi kerasulannya.</p>
<p>Oleh : Taufan Maulamin</p>
<p><a href="http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/">Menuju Kepribadian Muslim</a> is a post from: <a href="http://mei-azzahra.com">M.Ei Azzahra</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mei-azzahra.com/2009/10/26/menuju-kepribadian-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

